Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak di bawah level psikologis Rp18.000/US$ di pasar luar negeri.
Pada Senin (6/7/2026) pukul 08:07 WIB, US$1 dihargai Rp17.989 di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), melemah 0,25% dari posisi sebelumnya.
>>> Penyebab Rupiah Finis di Zona Hijau Pekan Lalu
Pelaku pasar kini menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan besok.
Sejak Desember tahun lalu, cadangan devisa terus merosot hingga mencapai US$145 miliar per akhir Mei, level terendah sejak Juni 2024.
Cadangan devisa menjadi indikator penting karena mencerminkan kekuatan Bank Indonesia (BI) dalam melakukan intervensi di pasar valas.
>>> FIFA Batalkan Sanksi Balogun Usai Ditelepon Trump, Belgia Protes
Semakin solid cadangan, semakin besar amunisi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Namun, dengan tren penurunan cadangan devisa, kemampuan BI untuk menjaga stabilitas rupiah mulai dipertanyakan.
Apalagi neraca perdagangan Indonesia pada Mei mencatat defisit, memutus rantai surplus yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
>>> Kopi Pagi: Jangan Ingkari Janji Konstitusi
Kondisi ini membuat pasar semakin waspada terhadap pergerakan rupiah ke depan. Data cadangan devisa besok akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan moneter dan stabilitas mata uang.
