Ekonom menyoroti outlook Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester II-2026 yang dinilai mencerminkan struktur fiskal yang rapuh.
Basis penerimaan pajak yang menyempit dan ketergantungan pada komoditas menjadi faktor utama kerentanan tersebut.
>>> IMF Proyeksikan Ekonomi RI Stabil di 5% pada 2026
Selain itu, belanja negara belum memiliki mekanisme penyesuaian yang kuat ketika terjadi guncangan ekonomi.
Defisit APBN 2026 Melebar
Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya memaparkan defisit APBN 2026 bakal melebar menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85% terhadap PDB.
Angka tersebut lebih tinggi dari target defisit dalam APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB.
Pemerintah mengklaim defisit akan membaik seiring menurunnya harga minyak dunia.
>>> IHSG Ditutup Menguat, Saham Energi dan Properti Jadi Pendorong
Kenaikan defisit terjadi karena proyeksi belanja negara yang melampaui pagu anggaran.
Dalam outlook APBN 2026, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu APBN.
Belanja yang membengkak termasuk anggaran pembayaran subsidi dan kompensasi pemerintah sebesar Rp132 triliun.
Sementara itu, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN.
>>> Link Live Streaming Spanyol vs Belgia Piala Dunia 2026, Kick Off 02.00 WIB
Dengan kondisi tersebut, kebutuhan pembiayaan anggaran diperkirakan meningkat menjadi Rp734,3 triliun untuk menutup defisit yang melebar.
