unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Lulusan Pertama Program Magister K-Culture dan Entertainment di Korea

Lulusan Pertama Program Magister K-Culture dan Entertainment di Korea

Lulusan Pertama Program Magister K-Culture dan Entertainment di Korea
Ilustrasi: Lulusan Pertama Program Magister K-Culture dan Entertainment di Korea
A A Ukuran Teks16px

Abigail Jazmine Llamo, warga Filipina berusia 29 tahun, baru saja menyelesaikan gelar master di bidang K-Culture and Entertainment dari Sungshin Women's University di Korea.

Ia tercatat sebagai lulusan pertama program tersebut.

>>> LANJUTAN KOMIK Lookism 617 Bahasa Indonesia--UPDATE Lookism Chapter 616 617 618 SUB INDO English RAW

Bagi Llamo, K-pop bukan sekadar hiburan.

"K-pop mungkin tampak ringan dan menghibur di permukaan, tetapi bagi saya, itu memberikan kegembiraan, kenyamanan, dan harapan," ujarnya dalam wawancara dengan The Korea Times.

Ia menambahkan bahwa K-pop menjadi pelarian sekaligus sumber energi yang membantunya bermimpi tentang masa depan berbeda.

Karena itu, ia ingin terlibat dalam pekerjaan yang bisa menginspirasi atau menghibur orang lain.

Perjalanan Menuju Korea

Ketertarikan Llamo pada budaya Korea dimulai sejak kunjungan keluarga ke Korea pada 2004 dan tayangan drama seperti "Jewel in the Palace."

Minatnya semakin dalam setelah menikmati serial hits seperti "Boys Over Flowers" dan "You're Beautiful."

Saat kuliah di De La Salle University mengambil jurusan kewirausahaan, ia mulai belajar bahasa Korea dan mengambil kursus tentang budaya Korea.

Ini menjadi fondasi untuk langkahnya pindah ke Korea.

Pandangan tentang Globalisasi K-pop

Llamo melihat globalisasi K-pop sebagai peluang sekaligus risiko.

"Saya setuju K-pop menjadi lebih global, dan globalisasi tidak selalu buruk karena memungkinkan K-pop menjangkau lebih banyak audiens," katanya.

>>> Busan Pamerkan Kerajinan dan Hanbok Sambut Delegasi UNESCO

Namun, ia mengingatkan agar K-pop tidak kehilangan identitasnya.

"Jika K-pop terlalu terlepas dari konteks budaya dan industri yang membentuknya, ia bisa kehilangan sebagian dari identitasnya," ujarnya.

Menurutnya, keseimbangan adalah kunci. Bahasa Korea harus tetap dipertahankan meskipun banyak artis menggunakan lirik bahasa Inggris untuk menjangkau pasar non-Korea.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot