Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (21/7) memberlakukan tarif 50 persen untuk sebagian besar barang asal Kanada.
Trump menuding Kanada mendiskriminasi mobil, alkohol, dan produk susu Amerika Serikat secara tidak adil.
>>> Protes Jepang atas Uji Tembak Kapal Perang China di ZEE
Langkah ini berpotensi memicu gelombang baru kekacauan ekonomi, termasuk risiko inflasi lebih tinggi dan memburuknya hubungan kedua negara.
Dasar Hukum dan Cakupan Tarif
Seorang pejabat administrasi yang tidak disebutkan namanya mengatakan Kanada adalah salah satu dari sedikit negara selain China yang membalas tarif Trump sebelumnya.
Trump menandatangani tiga proklamasi untuk memberlakukan tarif berdasarkan Section 338 Undang-Undang Perdagangan 1930.
Beberapa anggota parlemen Demokrat tahun lalu mengusulkan pencabutan pasal tersebut karena khawatir Trump akan menggunakannya untuk mengganggu stabilitas ekonomi.
Tarif baru 50 persen tidak mencakup produk energi, potas, ikan, dan mineral kritis.
Namun, tarif ini mencakup barang-barang yang sebelumnya dilindungi oleh Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA).
Perjanjian dagang tahun 2020 itu tidak diperpanjang oleh AS, sehingga memicu negosiasi baru yang bisa berlangsung hingga 2036.
Gedung Putih menyatakan tarif akan berlaku dalam 30 hari, memberi waktu untuk negosiasi.
Respons Kanada dan Risiko Perang Dagang
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan pemerintahnya percaya pada manfaat perdagangan bebas dan adil.
Kanada telah menandatangani lebih dari 20 kemitraan ekonomi dan keamanan baru.
Carney menyatakan Kanada siap bernegosiasi dengan pemerintahan Trump.
“Sengketa dagang ini telah meningkatkan biaya bagi keluarga, terutama di AS,” kata Carney.
“Kanada siap terlibat secara intensif untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan AS demi kepentingan bersama warga kami.”
Namun, tarif ini bisa meningkat menjadi perang dagang yang lebih luas saat Kanada berusaha mempertahankan ekonominya.
