Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya telah memilih pendekatan ganda untuk menghadapi Iran yang dianggap keras kepala.
Pendekatan itu menggabungkan tekanan ekonomi dengan potensi eskalasi kekuatan militer yang dahsyat.
Langkah ini diambil setelah kampanye militer besar-besaran yang dilancarkan selama lebih dari enam bulan tidak berhasil menundukkan kepemimpinan Iran.
Pekan lalu, pemerintahan Trump meluncurkan 'Operasi Pengucilan Ekonomi' untuk mengisolasi Iran dari mitra dagang globalnya.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan militer kembali dilancarkan, memicu balasan dari Iran dan meningkatkan kekhawatiran akan perang regional.
Kombinasi sanksi yang sudah ketat dan kampanye pengeboman yang terputus-putus belum berhasil meluluhkan kepemimpinan Iran.
Pemerintahan Trump justru kesulitan mencari jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan ini.
Kebuntuan dan Pertimbangan Politik Domestik
Teheran tetap bertahan, membuat Trump frustrasi di tengah naiknya harga energi dan gejolak ekonomi global.
Jajak pendapat menunjukkan penanganan perang oleh pemerintahannya menurun menjelang pemilihan paruh waktu November.
Trump pada Rabu (4/9/2026) mengatakan dia tidak yakin konflik akan berlangsung lebih lama lagi.
Dia mengabaikan saran bahwa harga bensin tinggi dan konflik yang tidak populer akan memengaruhi pemilihan bagi Partai Republik.
"Itu tidak masalah. Dan saya tidak terpengaruh oleh pemilihan," kata Trump kepada wartawan.
"Saya tidak mencalonkan diri. Tetapi partai saya yang mencalonkan diri, dan saya akan membantu partai saya."
Seorang diplomat regional yang mengetahui masalah ini mengatakan kebuntuan antara Teheran dan Washington mencerminkan prioritas domestik kedua negara.
Bagi Trump dan Partai Republik, prioritasnya adalah pemilihan paruh waktu; bagi Iran, prioritasnya adalah krisis internal.
Diplomat itu, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan isu domestik menjadi alasan utama mengapa kedua belah pihak tidak mau mengalah.