unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Kencan di Korea: Anak Muda Menyaring Pasangan Berdasarkan Nilai
Lifestyle

Kencan di Korea: Anak Muda Menyaring Pasangan Berdasarkan Nilai

Pasangan muda Korea sedang berkencan
Kencan di Korea: Anak Muda Menyaring Pasangan Berdasarkan Nilai
A A Ukuran Teks16px

Perbedaan politik dan sosial antara pria dan wanita muda di Korea semakin terlihat. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah perbedaan tersebut berdampak pada hubungan romantis mereka.

Namun, bagi anak muda Korea sendiri, perbedaan pandangan politik tidak selalu menjadi penghalang untuk menjalin cinta. Mereka justru mencari keseimbangan antara cinta dan nilai pribadi.

Sebagian dari mereka menganggap memeriksa pandangan calon pasangan sebagai langkah penting sebelum memulai hubungan. Hal ini diungkapkan dalam diskusi kelompok yang melibatkan enam partisipan muda.

Penyaringan Sebelum Berkencan

Seorang partisipan menceritakan temannya yang memeriksa komunitas online dan akun media sosial seseorang sebelum berkencan.

Temannya tidak langsung menolak hanya karena dukungan politik tertentu, tetapi akan berpikir dua kali jika orang tersebut aktif mendukung politikus.

Temannya pernah berkonflik dengan mantan pacar mengenai kesenjangan upah gender. Mantannya menganggap kesenjangan upah gender sebagai ilusi statistik.

Setelah pengalaman itu, temannya mulai berpikir, 'Jika saya berada dalam situasi yang tidak setara, apakah orang ini akan berpihak pada saya?'

Ini bukan sekadar soal dukungan partai politik, tetapi tentang membayangkan masa depan bersama.

Partisipan lain mengaku tidak akan memeriksa media sosial sebelum bertemu. Ia lebih memilih bertemu langsung untuk mengetahui kecocokan dan kepribadian.

Meski begitu, ia mengakui pandangan politik penting karena mencerminkan nilai-nilai fundamental dalam hidup. Jika terlalu berbeda, mereka akan sering berbeda pendapat dalam berbagai hal.

Ia memahami jika ada teman yang memeriksa media sosial sebelum bertemu, karena itu dianggap sebagai riset awal karena kekhawatiran.

Partisipan lain menyatakan tidak masalah dengan kecenderungan politik pasangan selama tidak ekstrem. Ia bangga bisa saling menghormati perbedaan pendapat dalam hubungannya.

Ada juga yang berpendapat bahwa menyaring ideologi berdasarkan preferensi pribadi adalah hal yang wajar. Menolak seseorang karena cara berpikirnya sama seperti menolak karena tidak menyukai penampilan fisik.

Seorang partisipan bertanya apakah wanita lebih sering memeriksa pandangan politik calon pasangan. Partisipan lain menjawab bahwa pria sering menganggap pandangan politik pasangan sebagai 'pilihan pribadi'.

Partisipan lain merasa pria yang terlalu tertarik pada isu politik dan ingin pendapatnya didengar adalah tanda bahaya.

Kebanyakan orang tidak mengekspresikan pendapat politik secara kuat, jadi jika ada yang melakukannya, itu menonjol.

Meski mendukung pihak yang berbeda, masih bisa saling memahami. Masalah muncul ketika seseorang memaksakan pandangan politik atau ideologinya kepada orang lain.

Ia tidak ingin menolak seseorang hanya karena membaca konten terkait ideologi tertentu. Yang menjadi masalah adalah jika mereka terlibat dalam hal yang benar-benar ekstrem.

Partisipan lain mengatakan tidak perlu bertanya langsung tentang politik. Dari kata-kata dan cara berpikir dalam percakapan, kita bisa mengetahui pandangan seseorang.

Yang terpenting adalah bagaimana mereka memandang kelompok rentan.

Contohnya, reaksi terhadap protes Solidaritas Penyandang Disabilitas atau isu minoritas seksual bisa menunjukkan pandangan seseorang.

Seorang partisipan menceritakan pengalamannya berkencan dengan seseorang yang tidak sependapat tentang isu perempuan.

Saat bekerja, ia mengalami pelecehan seksual oleh eksekutif pria yang lebih tua, tetapi pacarnya tidak memahami mengapa ia tidak langsung melawan.

Pacarnya berpikir, 'Jika tidak adil, lawan saja.' Padahal, bagi perempuan, menghadapi masalah seperti itu di perusahaan bisa berisiko besar, termasuk kehilangan pekerjaan.

Ia merasa frustrasi karena pacarnya tidak bisa memahami pengalaman sebagai perempuan. Konflik ini membuat hubungan mereka semakin renggang karena ia merasa tidak akan didukung.

Penyaringan sebagai Masalah Keamanan

Partisipan lain mengaku kecewa setelah mengetahui mantan pacarnya memilih kandidat tertentu dalam pemilihan presiden. Sebelumnya, ia sengaja tidak mencari tahu komunitas online yang digunakan karena takut kecewa.

Meski pilihan politik bukan satu-satunya alasan putus, jika tahu sebelumnya, ia mungkin tidak akan memulai hubungan.

Partisipan lain pernah berpacaran saat ada demonstrasi besar terkait impeachment presiden. Meski tidak sepenuhnya sama, pandangan politik mereka cukup dekat sehingga bisa membicarakan politik dengan nyaman.

Jika pacarnya ikut demonstrasi menentang impeachment, ia tidak bisa membayangkan masa depan bersama. Perbedaan pemikiran yang ekstrem membuatnya sulit menjalin hubungan jangka panjang.

Ada pertanyaan apakah kita harus benar-benar kompatibel secara politik untuk berkencan. Bisakah kita berkencan sambil belajar menyesuaikan perbedaan?

Jika perbedaannya ekstrem, itu sulit. Tetapi, cinta dan perbedaan pandangan dunia bisa berjalan beriringan.

Partisipan lain berpendapat bahwa biaya berkencan semakin mahal, baik uang, waktu, maupun energi emosional. Waktu itu bisa digunakan untuk hal lain seperti belajar atau mempersiapkan pekerjaan.

Pertanyaannya, apakah perlu berkencan dengan seseorang yang nilai-nilainya sangat berbeda dan terus-menerus berusaha menyesuaikan? Sekali kencan saja menghabiskan banyak uang dan waktu.

Kencan bukanlah sesuatu yang wajib, jadi tidak ada alasan untuk berkencan dengan seseorang yang nilai politik dan sosialnya sangat berbeda.

Orang tidak melakukan 'penyaringan ideologis' yang besar, hanya mencoba mengidentifikasi area ketidakcocokan melalui percakapan biasa.

Karena itu, seorang partisipan mengaku tidak ingin berkencan saat ini. Sulit menemukan seseorang yang benar-benar cocok.

Dulu, orang bilang kencan dan menikah itu wajib, tetapi sekarang tidak lagi. Kencan dianggap sebagai salah satu bentuk konten atau hobi.

Jika berkencan dengan orang yang tidak cocok, itu menghabiskan terlalu banyak energi emosional dan menyebabkan stres. Jika kencan bukan kebutuhan tetapi pilihan, tidak ada alasan untuk menjalaninya.

Jika ingin berkencan, lebih baik bertemu dengan seseorang yang nilai-nilainya cukup cocok.

Kencan kini lebih merupakan pilihan. Seperti menonton olahraga atau tidak, orang bisa memilih untuk berkencan atau tidak.

Bagi perempuan, penyaringan ideologis atau memeriksa calon pasangan juga terkait dengan keamanan. Kita sering mendengar kasus kekerasan kencan dan perekaman ilegal yang mengancam keselamatan perempuan.

Jika biaya untuk mencari tahu apakah seseorang dapat dipercaya dan menjalin hubungan yang aman terlalu tinggi, mungkin lebih baik menghabiskan waktu untuk hobi atau teman daripada melalui proses itu.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru