Ada juga yang berpendapat bahwa menyaring ideologi berdasarkan preferensi pribadi adalah hal yang wajar. Menolak seseorang karena cara berpikirnya sama seperti menolak karena tidak menyukai penampilan fisik.
Seorang partisipan bertanya apakah wanita lebih sering memeriksa pandangan politik calon pasangan. Partisipan lain menjawab bahwa pria sering menganggap pandangan politik pasangan sebagai 'pilihan pribadi'.
Partisipan lain merasa pria yang terlalu tertarik pada isu politik dan ingin pendapatnya didengar adalah tanda bahaya.
Kebanyakan orang tidak mengekspresikan pendapat politik secara kuat, jadi jika ada yang melakukannya, itu menonjol.
Meski mendukung pihak yang berbeda, masih bisa saling memahami. Masalah muncul ketika seseorang memaksakan pandangan politik atau ideologinya kepada orang lain.
Ia tidak ingin menolak seseorang hanya karena membaca konten terkait ideologi tertentu. Yang menjadi masalah adalah jika mereka terlibat dalam hal yang benar-benar ekstrem.
Partisipan lain mengatakan tidak perlu bertanya langsung tentang politik. Dari kata-kata dan cara berpikir dalam percakapan, kita bisa mengetahui pandangan seseorang.
Yang terpenting adalah bagaimana mereka memandang kelompok rentan.
Contohnya, reaksi terhadap protes Solidaritas Penyandang Disabilitas atau isu minoritas seksual bisa menunjukkan pandangan seseorang.
Seorang partisipan menceritakan pengalamannya berkencan dengan seseorang yang tidak sependapat tentang isu perempuan.
Saat bekerja, ia mengalami pelecehan seksual oleh eksekutif pria yang lebih tua, tetapi pacarnya tidak memahami mengapa ia tidak langsung melawan.
Pacarnya berpikir, 'Jika tidak adil, lawan saja.' Padahal, bagi perempuan, menghadapi masalah seperti itu di perusahaan bisa berisiko besar, termasuk kehilangan pekerjaan.
Ia merasa frustrasi karena pacarnya tidak bisa memahami pengalaman sebagai perempuan. Konflik ini membuat hubungan mereka semakin renggang karena ia merasa tidak akan didukung.