Pasar Tradisional Pondok Labu, Jakarta Selatan, kini semakin sepi pengunjung. Deretan kios tutup menjadi pemandangan harian akibat lemahnya transaksi jual-beli.
Fenomena ini menggambarkan daya beli masyarakat yang masih tertekan. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut hal ini membuktikan tekanan tersebut.
Bhima menyoroti kelompok menengah dan mengatakan fenomena lemahnya daya beli terjadi sejak tiga tahun terakhir. Hal itu selaras dengan indeks penjualan ritel yang menunjukkan banyak tekanan.
"Masyarakat sebenarnya membeli barang-barang secara online itu karena promo atau diskon, jadi bukan permintaan secara organik atau secara alamiah," ungkap Bhima kepada Pos Kota, Kamis, 3 September 2026.
Ia menuturkan, salah satu penyebab kios pedagang berguguran adalah tidak adanya pembatasan impor barang-barang. Hal ini memukul ritel domestik, terutama barang yang dijual UMKM atau industri dalam negeri.
"Selama beberapa masalah tidak segera diselesaikan, maka kehancuran dari kios-kios itu pun akan terus berlanjut.
Termasuk juga ada kekhawatiran di tengah merosotnya permintaan, tapi biaya sewa, listrik dan lain-lainnya mengalami kenaikan," tuturnya.
Bhima juga menyoroti belum adanya intervensi atau stimulus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Padahal, pembenahan tata kelola pasar dan regulasi impor yang memihak pedagang lokal dinilai mendesak.