Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tidak sedang berkomunikasi dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah fokus Washington untuk memberi sanksi ekonomi kepada Teheran.
"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak berencana bertemu atau apa pun," kata Trump kepada wartawan di Oval Office, Kamis (28/8).
>>> Polisi Bubarkan Massa Rusuh di Jakarta, Orang Tua Diminta Jauhkan Anak dari Aksi
Sebelumnya, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kampanye ekonomi AS akan berlanjut sampai Iran bersedia berunding secara serius.
"Sekarang kami punya Operation Economic Outcast untuk menghancurkan ekonomi mereka," ujar Leavitt dalam program Fox & Friends.
Leavitt menambahkan, "Tidak ada negosiasi yang terjadi saat ini, dan ini akan berlanjut sampai presiden merasa mungkin mereka datang ke meja perundingan dengan cara yang berarti...
Dia tentu saja tetap memiliki semua opsi di atas meja."
Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah memperingatkan negara-negara lain untuk memutus hubungan finansial dengan Iran atau menghadapi sanksi sekunder.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari 'Economic D-Day', namun Departemen Keuangan belum benar-benar menjatuhkan hukuman.
>>> Krisis Rudal Patriot: AS Kehabisan Stok di Eropa karena Iran
Ketika ditanya apakah AS akan menghukum Rusia yang masih berbisnis dengan Iran, Trump menjawab, "Tergantung.
Sejauh ini, saya pikir Rusia bersikap cukup baik terkait Selat Hormuz, dan Anda harus paham: untuk semua yang mereka lakukan, kami juga melakukannya."
Trump juga menyinggung China saat ditanya tentang sanksi terhadap bank-bank China. "Siapa bilang saya tidak?
Anda tidak tahu apakah saya melakukannya... Saya tidak harus mengumumkan semuanya, kan?"
Sementara itu, Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran pada Kamis untuk mencoba menghidupkan kembali diplomasi.
>>> SK Hynix Mulai Produksi Massal Chip AI di Indiana pada 2029
Kunjungan ini terjadi setelah AS dan Iran saling menuduh terkait janji Washington meningkatkan tekanan ekonomi, yang oleh seorang pejabat Iran disebut sebagai 'perang ekonomi menyeluruh'.