Transformasi juga dilakukan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Sejak November 2025, terminal baru dengan area komersial modern telah beroperasi.
>>> MK Putuskan Operator Seluler Tak Boleh Hanguskan Kuota Internet
Kapasitas Bandara Sultan Hasanuddin meningkat signifikan menjadi 15,5 juta penumpang per tahun dari sebelumnya sekitar 7 juta.
Peningkatan ini diharapkan mendukung konektivitas kawasan timur Indonesia.
Pengembangan Rute Internasional dan Efisiensi
Selain memperkuat bisnis non-aeronautika, InJourney Airports terus mengembangkan rute internasional baru bersama regulator dan pemangku kepentingan. Langkah ini mendukung sektor pariwisata dan memperluas konektivitas udara Indonesia.
Perusahaan mendukung Kementerian Perhubungan dalam pertemuan ASEAN China Working Group on Regional Air Service Arrangements di Yogyakarta pada 7-9 Juli 2026.
InJourney Airports juga berpartisipasi dalam Routes Asia di Xi'an pada 14-16 April 2026.
Forum tersebut dimanfaatkan untuk menarik minat maskapai asing membuka atau menambah rute ke Indonesia, khususnya dari China dan negara ASEAN.
Rizal menjelaskan kontribusi bisnis non-aeronautika kini mencapai sekitar 38% dari total pendapatan, meningkat dari 30% sebelum transformasi.
Pada Kuartal I 2026, InJourney Airports menata ulang struktur pembiayaan bersama kreditur melalui InJourney Group Financial Solutions.
Hasilnya, beban bunga turun 10% pada Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kombinasi penguatan bisnis non-aeronautika, pengembangan rute internasional, modernisasi fasilitas, dan efisiensi pembiayaan menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
>>> PHK 134 Pekerja PT Amos Berakhir Damai, Kemnaker dan Polri Fasilitasi Kesepakatan Rp12,7 Miliar
Strategi ini memperkuat peran perusahaan dalam mendukung industri aviasi, pariwisata, dan ekonomi nasional.
