“Rasanya Gu-cheon tidak mencoba menghancurkan mereka dengan senjatanya, melainkan membujuk roh-roh itu untuk melepaskan dendam dan pergi ke tempat yang lebih baik,” kata Nam.
“Saya menghilangkan gerakan berlebihan dan membuat gaya bertarungnya lebih defensif.”
Tantangan CGI dan Kkeomeoksari
Sebagai serial yang menggabungkan drama sejarah, misteri, fantasi, dan aksi, 'The East Palace' sangat bergantung pada CGI. Para aktor harus berakting berhadapan dengan makhluk tak terlihat.
“Untungnya, saya selalu suka menggunakan imajinasi, jadi tidak sulit terbiasa dengan alam gwi,” kata Nam.
“Set dan elemen visual sudah sangat detail bahkan sebelum CGI ditambahkan, sehingga mudah tenggelam dalam dunia di lokasi syuting.”
Poin pembicaraan lain adalah 'Kkeomeoksari', seekor gwimae yang muncul dalam serial. Penampilannya yang menggemaskan membuatnya dijuluki 'Groot dari Joseon'.
“Saya selalu tahu makhluk kecil itu akan menjadi hit,” canda Nam. “Ada model Kkeomeoksari di lokasi, tapi harus disingkirkan saat syuting.
Jadi saat latihan, saya terus menatapnya dan mencoba mengingat penampilannya.”
Kesuksesan Global dan Kontroversi
Setelah dirilis, 'The East Palace' langsung menduduki peringkat No. 1 di Netflix Top 10 Series Korea Today.
Dalam tiga hari, ia mencatat 4,9 juta penayangan dan menduduki peringkat kedua di daftar global Netflix untuk acara non-Inggris.
Serial ini juga masuk Top 10 di 27 negara, termasuk Hong Kong, Thailand, Filipina, dan India.
Bagi Nam, yang selama wajib militer merenungkan karya sebelumnya dan berharap mendapat peran yang lebih khas, 'The East Palace' datang pada saat yang tepat.
Namun, Nam juga menghadapi kontroversi tuduhan perundungan saat sekolah. Ia menempuh jalur hukum dan pelapor asli dikenakan denda 7 juta won karena pencemaran nama baik.
