Pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya memasuki fase baru setelah Arab Saudi secara terbuka bergabung dalam eskalasi militer terhadap kelompok proksi yang didukung Teheran.
Di saat yang sama, upaya diplomatik yang sudah rapuh untuk mengakhiri perang kembali gagal karena ketidakpercayaan yang semakin dalam antara kedua musuh bebuyutan itu.
>>> Sarwendah Sedih Anaknya Dihujat di Sekolah dan Media Sosial Imbas Kisruh Keluarga
Meskipun relatif tenang selama beberapa hari, kedua belah pihak melancarkan serangan militer dalam 24 jam terakhir yang sekali lagi berisiko memicu perang habis-habisan dan perluasan konflik di kawasan.
Belum jelas strategi apa yang dimiliki pejabat Amerika atau Iran untuk mencari jalan ke depan.
Serangan Balasan dan Ancaman Trump
Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman setelah serangan terhadap pangkalan AS di Yordania berhasil digagalkan, namun ia masih membuka peluang untuk melanjutkan perundingan.
"Mereka sudah meminta maaf, tapi Anda tahu, kami harus memukul mereka sedikit," kata Trump kepada wartawan di Kantor Oval.
Ia menambahkan, "Giliran kami, dan kita lihat apakah nanti kami bisa mencapai kesepakatan. Tapi kami akan memukul mereka sangat keras."
Beberapa jam kemudian, militer AS melancarkan serangan sebagai "respons kuat terhadap upaya serangan Iran kemarin terhadap pasukan AS di Timur Tengah," demikian pernyataan di media sosial.
Militer AS tidak segera mengungkapkan sasaran serangan tersebut.
Keterlibatan Arab Saudi
Arab Saudi bergabung dengan AS dalam menyerang beberapa lokasi logistik dan senjata yang digunakan oleh milisi pro-Iran di Irak.
Serangan gabungan AS-Saudi yang pertama kali diumumkan secara publik ini terjadi setelah serangan drone ke kerajaan, memperumit konflik yang kini melibatkan hampir semua negara di kawasan.
