Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kedua serangan itu tidak saling terkait.
Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman bertemu secara terpisah dengan Trump dan Wakil Presiden JD Vance pada Rabu.
Ia menyampaikan pandangan Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa Iran telah kehilangan pengaruh di Suriah dan Lebanon, namun masih mampu mendukung Houthi di Yaman dan milisi di Irak.
>>> Polisi Sisir Titik Rawan Kejahatan di Serang, Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Keputusan Saudi bergabung dengan serangan AS terhadap milisi Irak dimaksudkan untuk mengirim pesan ke Iran bahwa mereka tidak akan mentolerir serangan terhadap industri minyak Saudi dan infrastruktur penting lainnya.
Namun, menteri pertahanan juga menekankan kepada Trump dan Vance bahwa Saudi ingin melihat de-eskalasi perang dan menginginkan Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Diplomasi Mandek dan Sejarah Kegagalan
Pemerintahan Trump tampaknya tidak memiliki strategi untuk melanjutkan perundingan dengan Iran guna mengakhiri konflik.
Seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa meskipun ada upaya beberapa mediator untuk memulai kembali pembicaraan, pemerintahan saat ini tidak secara aktif mengejar perundingan.
Perkembangan terakhir di kawasan menunjukkan bahwa dimulainya kembali diplomasi langsung tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Analis menyebut ketidakpastian dan kurangnya strategi ini sebagai akibat dari ketidakpercayaan yang mendalam antara Washington dan Teheran, terutama setelah proposal gencatan senjata sementara yang ditandatangani pada pertengahan Juni runtuh dalam beberapa pekan terakhir.
Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan para pejabat senior Iran hampir bulat dalam keputusan mereka untuk menyetujui nota kesepahaman dengan AS.
"Tapi sekarang tidak ada dari mereka yang percaya bahwa Trump adalah mitra negosiasi yang dapat diandalkan," katanya.
"Masalahnya, saya pikir, Trump juga sekarang memiliki kesan yang sama tentang Iran."
Sejarah negosiasi AS dengan Iran setelah 1979 dipenuhi dengan kegagalan, awal yang salah, dan aksi militer yang tetap berhenti sebelum konflik skala penuh seperti sekarang.
Kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran yang diamankan oleh pemerintahan Obama adalah kesepakatan besar pertama antara kedua negara sejak Persetujuan Aljir 1981 yang mengakhiri krisis sandera Amerika.
Namun, sejak awal kedua belah pihak saling menuduh melanggar ketentuan kesepakatan tersebut.
>>> CEO Nvidia Bela Open Model AI yang Dikembangkan China
Penarikan AS dari kesepakatan itu pada 2018, kampanye sanksi tekanan maksimum, dan pembunuhan pemimpin militer tertinggi Iran Qassem Soleimani pada awal 2020 membuat hubungan semakin memburuk.
