Sejong, ibu kota administratif Korea Selatan, menyimpan dua wajah yang kontras.
Dari kafe di lantai 49 sebuah gedung di distrik terbaru, kota tampak muda dengan jaringan jalan, kompleks pemerintah, danau, serta arboretum yang tertata rapi.
Namun, hanya dengan berkendara singkat ke distrik lama, ritme berubah total.
Gang pasar sempit berjajar kios ikan, papan reklame retro, rel kereta, dan para perajin muda yang membuka usaha di rumah bata tua.
Program "Sejong Osik" atau tur lima waktu makan hadir untuk menjembatani dua dunia tersebut.
Digagas pemerintah kota Sejong bersama Sejong Culture and Tourism Foundation, program wisata kuliner dua hari satu malam ini mengungkap potensi gastronomi ibu kota administratif Korea.
Tur ini terinspirasi dari Raja Sejong Agung yang disebut makan lima kali sehari. Peserta diajak mengunjungi sejumlah restoran, pasar, dan kafe ternama untuk mencicipi beragam hidangan.
Dari Iga Panggang hingga Pizza Persik
Perjalanan dimulai dengan hidangan lokal di Sanjang Garden, terkenal dengan "seok galbi" atau iga babi berbumbu yang dipanggang di atas arang dan disajikan di piring batu panas.
Sejak 1995, restoran ini meracik iga babi domestik dengan bumbu rahasia.
Karena iga datang dalam keadaan matang, tamu menikmati makan tanpa repot memanggang dan tanpa asap menempel di pakaian.
Rasanya seimbang berkat manis halus, sehingga tekstur lembut dan aroma asap daging premium tetap menonjol.
Setelah makan siang, peserta dibawa ke Cafe Pleasure di lantai 49 Sejong Leader's Fore Tower.
Hidangan kontemporer seperti matcha latte menjadi jeda menyenangkan, ditemani panorama Sungai Geum dan taman kota yang membentang.
