Jihyun "Kimmy" Kim mengingat masa kecilnya di Korea lewat ritme meja makan keluarga. Nasi, doenjang jjigae atau miyeokguk buatan ibunya, dan kimchi yang selalu ada.
"Sebagai anak-anak, saya hampir tidak memperhatikannya karena itu begitu biasa," kenangnya dalam wawancara dengan The Korea Times.
Kimchi adalah bagian hidup sehari-hari yang jarang dibicarakan dan dianggap biasa.
Namun setelah pindah ke Inggris pada 2008 mengikuti pernikahan, kehadiran sunyi itu berubah menjadi lensa yang menghubungkannya dengan rumah.
"Saya tidak pernah benar-benar berencana memulai bisnis kimchi. Itu terjadi secara alami setelah tinggal di Inggris," ujarnya.
"Dalam arti tertentu, saya harus meninggalkan Korea untuk benar-benar menghargai sesuatu yang selalu menjadi bagian hidup saya."
Meluruskan Salah Paham tentang Kimchi
Hidup di luar negeri membuka jarak antara kimchi yang ia kenal dan cara orang Barat memahaminya. Di luar negeri, kimchi sering direduksi menjadi tren.
Kimchi disalahpahami sebagai padanan sederhana sauerkraut, atau dipasarkan ketat sebagai probiotik superfood fungsional.
"Saya mulai menyadari betapa berbeda kimchi dipahami di sini. Sering kali hanya digambarkan sebagai kubis fermentasi pedas atau dibandingkan dengan sauerkraut," jelasnya.
"Rasa dan metodenya juga cukup berbeda.
Itu membuat saya ingin berbagi kimchi yang saya kenal, dengan rasa, metode, dan tradisi yang saya tumbuh besar dengannya."
Dorongan itu membawa Kim meluncurkan bisnis artisanalnya, Kimchi & Radish, pada 2018. Saat menjual jar dan menggelar lokakarya di London, ia menyadari memberi makan orang hanyalah separuh persamaan.
Para juru masak rumahan Barat haus pemahaman.
"Semakin lama saya bekerja dengan kimchi, semakin saya ingin berbagi bukan hanya makanannya, tetapi pengetahuan di baliknya," katanya.