Bagi sebagian besar pendengar, musik country identik dengan kisah patah hati, ketekunan, dan kesempatan kedua.
Bagi Hurricane Kimchi, genre ini menjadi satu-satunya yang terasa jujur untuk menceritakan kisah mereka.
Hurricane Kimchi, yang juga dikenal sebagai Heezy Yang, dikenal di komunitas LGBTQ+ Korea sebagai pemeran drag, aktivis, dan penyelenggara acara.
Selama lebih dari satu dekade, mereka menghibur penonton sambil memperjuangkan visibilitas dan inklusi yang lebih besar.
Namun, single terbaru mereka, "Broken (Slay, Queens! )," menandai babak berbeda — yang dibentuk bukan oleh panggung, melainkan oleh penyakit.
Lagu ini dirilis sebagai single orisinal ke-10 dan terinspirasi dari pengalaman hidup dengan komplikasi kesehatan kronis setelah terkena COVID-19 dan influenza secara beruntun pada 2022.
"Saya sakit baik di luar maupun di dalam," kata mereka. "Namun saya masih di sini hari ini.
Pengalaman ini dan fakta bahwa saya masih hidup meski hancur — itulah pesan yang ingin saya sampaikan."
Country sebagai Media Kejujuran
Meskipun Hurricane Kimchi dikenal dengan musik pop dan penampilan drag yang energik, musik country menawarkan sesuatu yang selama ini mereka cari.
"Saya menyadari banyak lagu country lebih langsung dan lugas dalam pesan dan penceritaannya," kata mereka. "Saya ingin lagu berikutnya sederhana dan jujur."
Terinspirasi oleh artis seperti Florida Georgia Line dan Luke Bryan, "Broken" memadukan produksi country-rock yang ceria dengan lirik tentang belajar hidup dengan penyakit kronis, bukan mencoba melarikan diri darinya.
"Bagian tersulit bukan hanya sakit," kata mereka. "Tapi menerima bahwa ini menjadi normal baru saya."
Perjalanan Menuju Penerimaan Diri
Kejujuran ini menjadi ciri khas perjalanan artistik Hurricane Kimchi.
Jauh sebelum menjadi pemeran drag, mereka mengikuti jalan yang akrab bagi banyak anak muda Korea: unggul secara akademis, masuk program bisnis di universitas ternama, dan mengejar masa depan yang tampak stabil.
Namun, meski memenuhi ekspektasi orang lain, ada sesuatu yang terasa hilang. "Saya akhirnya menyadari ini bukan siapa saya dan sudah cukup," kenang mereka.
Meninggalkan universitas memungkinkan mereka mengejar minat kreatif yang telah menjadi bagian dari lingkungan sejak kecil.
Ayah mereka bekerja di industri film, memperkenalkan mereka pada seniman sejak dini, sementara menggambar, musik, dan pertunjukan perlahan menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Perkenalan mereka dengan drag terjadi pada 2014 setelah bertemu dengan para pemeran drag lokal yang kemudian menjadi teman.
"Saya tidak pernah menjadi penari," kata mereka. "Saya bahkan tidak tahu cara menggerakkan tubuh."
Belajar menari akhirnya mengubah penampilan dan kepercayaan diri mereka. Apa yang dimulai sebagai eksperimen berkembang menjadi karier yang mencakup musik, drag, seni visual, dan pengorganisasian komunitas.
Drag dan Aktivisme
Bagi Hurricane Kimchi, drag tidak pernah sekadar hiburan. "Tidak ada satu momen spesifik ketika saya menyadari drag itu politis," kata mereka.
"Saya selalu dikelilingi oleh seniman dan aktivis, jadi itu datang secara alami."
Seiring meningkatnya visibilitas komunitas LGBTQ+ di Korea melalui televisi, K-pop, dan media online, Hurricane Kimchi percaya penerimaan tidak berjalan secepat itu.
Meski menyambut popularitas estetika drag dan voguing di budaya arus utama, mereka berpendapat komunitas LGBTQ+ sendiri sering terpinggirkan dari percakapan.
"Budaya LGBTQ+ menjadi semakin terlihat dan bahkan menguntungkan di Korea," kata mereka. "Sering kali, orang yang diuntungkan hanya menyebutnya 'budaya' atau 'seni', menghilangkan bagian LGBTQ+."
Di luar masyarakat luas, mereka juga berharap melihat inklusivitas yang lebih besar di dalam komunitas itu sendiri, terutama terhadap transgender, perempuan queer, dan orang-orang dari latar belakang ras dan kebangsaan yang berbeda.
"Saya berencana terus melawan diskriminasi dengan menciptakan seni, acara, dan ruang aman yang menyambut semua orang," kata mereka.
Melanjutkan Misi Melalui Musik
Untuk saat ini, misi itu berlanjut melalui musik.
Meskipun Hurricane Kimchi mengatakan album penuh tidak mungkin dalam waktu dekat karena komitmen di berbagai proyek kreatif, mereka berharap dapat terus bereksperimen dengan genre baru, termasuk disco, R&B, dan pop-punk.
Namun, apa pun gayanya, mereka berharap setiap lagu membawa pesan yang sama dengan "Broken" — bahwa ketahanan bukanlah berpura-pura sakit tidak ada, tetapi terus berjalan meski sakit itu ada.
"Ini tentang hancur di luar dan di dalam," kata mereka, "tetapi tetap di sini."
Minggu depan, Hurricane Kimchi akan merilis versi alternatif dari "Broken (Slay, Queens! )" dan video musik.
Untuk versi baru ini, mereka menghapus drum sehingga terdengar lebih country daripada rock.