Jauh sebelum menjadi pemeran drag, mereka mengikuti jalan yang akrab bagi banyak anak muda Korea: unggul secara akademis, masuk program bisnis di universitas ternama, dan mengejar masa depan yang tampak stabil.
Namun, meski memenuhi ekspektasi orang lain, ada sesuatu yang terasa hilang. "Saya akhirnya menyadari ini bukan siapa saya dan sudah cukup," kenang mereka.
Meninggalkan universitas memungkinkan mereka mengejar minat kreatif yang telah menjadi bagian dari lingkungan sejak kecil.
Ayah mereka bekerja di industri film, memperkenalkan mereka pada seniman sejak dini, sementara menggambar, musik, dan pertunjukan perlahan menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Perkenalan mereka dengan drag terjadi pada 2014 setelah bertemu dengan para pemeran drag lokal yang kemudian menjadi teman.
"Saya tidak pernah menjadi penari," kata mereka. "Saya bahkan tidak tahu cara menggerakkan tubuh."
Belajar menari akhirnya mengubah penampilan dan kepercayaan diri mereka. Apa yang dimulai sebagai eksperimen berkembang menjadi karier yang mencakup musik, drag, seni visual, dan pengorganisasian komunitas.
Drag dan Aktivisme
Bagi Hurricane Kimchi, drag tidak pernah sekadar hiburan. "Tidak ada satu momen spesifik ketika saya menyadari drag itu politis," kata mereka.
"Saya selalu dikelilingi oleh seniman dan aktivis, jadi itu datang secara alami."
Seiring meningkatnya visibilitas komunitas LGBTQ+ di Korea melalui televisi, K-pop, dan media online, Hurricane Kimchi percaya penerimaan tidak berjalan secepat itu.
Meski menyambut popularitas estetika drag dan voguing di budaya arus utama, mereka berpendapat komunitas LGBTQ+ sendiri sering terpinggirkan dari percakapan.
"Budaya LGBTQ+ menjadi semakin terlihat dan bahkan menguntungkan di Korea," kata mereka. "Sering kali, orang yang diuntungkan hanya menyebutnya 'budaya' atau 'seni', menghilangkan bagian LGBTQ+."
