Spanyol pada Sabtu memasang penghalang laut sepanjang 500 meter di perbatasan antara wilayah Ceuta di Afrika Utara dan Maroko.
Langkah ini diambil setelah puluhan ribu migran menerobos perbatasan pada awal pekan.
>>> Polemik Uji Kandungan LTJ dalam Logam Ekspor RI: Aturan Tak Jelas
Pemerintah Spanyol melaporkan sedikitnya 67 migran tewas, termasuk yang tenggelam dan yang tewas dalam desakan saat melintasi pemecah gelombang.
Gelombang kedatangan 50.000 hingga 60.000 migran pada Kamis dan Jumat memicu krisis kemanusiaan dan kembali memanaskan perdebatan imigrasi di Eropa.
Kritik dan Respons Politik
Kritikus pemerintah sosialis Spanyol, terutama politisi sayap kanan dan kanan jauh, memanfaatkan gambar dramatis massa yang menyerbu Ceuta.
Ceuta terletak di Selat Gibraltar, pintu masuk Laut Tengah, dan telah menjadi wilayah Spanyol sejak 1580.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengecam reaksi beberapa pemimpin Uni Eropa terhadap peristiwa di Ceuta.
Ia menyebut seruan agar Spanyol diskors dari kawasan Schengen tanpa batas didorong oleh prasangka, berita palsu, ketidaktahuan, atau kepentingan politik.
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska membela kerja sama dengan Maroko. "Maroko bukan ancaman bagi Ceuta, atau bagi seluruh Spanyol.
Maroko adalah mitra yang dapat diandalkan," ujarnya.
Seruan Respons Terkoordinasi Uni Eropa
Sejumlah negara Uni Eropa menyerukan pembicaraan mendesak dan respons terkoordinasi terhadap situasi di Ceuta.
Surat yang dirilis kantor perdana menteri Denmark menyatakan kekhawatiran tentang masuknya imigran ilegal yang tidak terkendali dan instrumentalisme migrasi.
Para pemimpin Italia, Denmark, Austria, Belgia, Bulgaria, Siprus, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Finlandia, Jerman, Yunani, Hongaria, Latvia, Lituania, Malta, Belanda, Polandia, Rumania, Slovenia, Slowakia, dan Swedia menandatangani surat yang meminta presidensi Irlandia untuk mengadakan konferensi video menteri dalam negeri.
