Menteri Dalam Negeri Spanyol berhadapan dengan rekan-rekannya dari Uni Eropa yang garis keras dalam panggilan video tegang pada Selasa untuk menarik pelajaran dari masuknya migran secara massal ke kantong Ceuta di Afrika Utara.
Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana puluhan ribu orang masuk ke Ceuta dari Maroko, telah menempatkan pemerintah Spanyol berhadapan dengan banyak mitra EU.
>>> KPK Respons Praperadilan Pegawai BPK dalam Kasus Suap Muara Enim
Meskipun Spanyol bergerak cepat untuk mengirim kembali migran dari Ceuta, pemerintah Perdana Menteri Pedro Sanchez telah mendukung pendekatan yang lebih terbuka terhadap migrasi dibandingkan banyak negara EU lainnya, termasuk Italia dan Denmark yang keras.
Pertemuan yang Tegang
Konferensi video yang diadakan dengan tergesa-gesa pada Selasa menawarkan kesempatan untuk mencari titik temu, tetapi juga berisiko menjadi ajang adu kekuatan.
Pernyataan yang dikeluarkan setelah pembicaraan selama lebih dari tiga jam mengatakan negara-negara anggota "bersatu dalam menyatakan solidaritas yang kuat dengan Spanyol" dan memuji upaya "cepat dan efektif" untuk menyelesaikan krisis.
Namun, mereka juga mengakui bahwa "komunikasi selama masa krisis" dapat "diperkuat" dan dibuat "lebih koheren" — sebuah pengakuan tersirat bahwa respons Eropa kali ini kurang optimal.
Perang Surat dan Tekanan
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang memimpin kelompok garis keras, secara terbuka menyerang kebijakan migrasi Madrid, terutama dorongan baru-baru ini untuk memberikan status hukum kepada imigran tanpa dokumen yang sudah berada di negara itu.
Italia dan Denmark pekan lalu mengadvokasi penangguhan Spanyol dari kawasan bebas perjalanan Schengen atas krisis Ceuta — sebuah gagasan yang ditolak keras oleh Madrid dan secara hukum tidak mungkin dilakukan berdasarkan aturan EU.
