Uni Eropa bersiap mengusulkan pembatasan akses anak di bawah 15 tahun ke media sosial, platform berbagi video, chatbot, dan game online.
Langkah ini tertuang dalam draf dokumen hukum yang dilihat kantor berita AFP dan akan dipresentasikan secara resmi pada Kamis.
Rancangan undang-undang baru bertajuk "EU KIDS Act" itu akan melarang anak di bawah 15 tahun membuka akun sendiri.
Untuk anak yang lebih muda, akan diterapkan sistem akses berjenjang di bawah pengawasan orang tua.
Selain batas usia, aturan ini mewajibkan raksasa digital membuat platform mereka "aman secara desain" bagi anak-anak.
Fitur yang dianggap "adiktif" seperti infinite scrolling harus dihapus, menurut draf tersebut.
Komisi Eropa berada di bawah tekanan sejumlah negara anggota, termasuk Prancis dan Yunani, untuk mengambil langkah di tingkat blok.
Dorongan itu menguat setelah Australia melarang anak di bawah 16 tahun mengakses platform semacam itu.
Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan memberi gambaran tentang undang-undang baru ini pada Rabu.
Ia menyampaikannya dalam pidato tahunan di Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis.
Keesokan harinya, ia akan bergabung dengan kepala teknologi EU Henna Virkkunen untuk mempresentasikan proposal tersebut.
Draf itu juga melarang fitur adiktif seperti endless scrolling, notifikasi artifisial, dan sejumlah fitur hadiah bagi anak.
Komisi Eropa, selaku pengawas digital EU, menolak berkomentar mengenai rincian draf yang dilihat AFP.
Draf tersebut masih dapat berubah hingga teks dipublikasikan pada Kamis.
Batas usia bertahap
Undang-undang baru ini "menetapkan usia minimum di seluruh EU bagi anak di bawah umur untuk membuka akun mandiri pada usia 15 tahun," demikian bunyi draf itu.
Sistem berjenjang akan berlaku bagi anak yang lebih muda.
Anak berusia 13 dan 14 tahun harus meminta orang tua mereka membuat akun "pengantar" di platform media sosial, AI, atau game.
Akun tersebut memiliki fitur terbatas dan penggunaan waktu layar yang ketat, serta berada di bawah kendali orang tua.
Anak berusia tiga hingga 13 tahun dapat mengakses "akun yang sepenuhnya dikendalikan orang tua pada layanan ramah anak" dengan standar keamanan ketat.
Di bawah usia tiga tahun, anak-anak di 27 negara blok itu tidak akan memiliki akses sama sekali ke media sosial dan "layanan berisiko" lainnya.
EU juga tengah menyiapkan aplikasi pemeriksaan usia untuk memastikan anak-anak dijauhkan dari platform tersebut.
Aturan akses bertahap ini membuat pendekatan EU berbeda dengan Australia, di mana orang tua tidak dapat memberikan persetujuan bagi anak di bawah 16 tahun untuk mengakses media sosial.
Penegakan hukum akan dibiayai oleh biaya pengawasan terhadap platform.
EU sudah memiliki undang-undang kuat untuk melindungi anak, termasuk aturan konten Digital Services Act (DSA).
Melalui DSA, EU telah meminta Facebook dan Instagram milik Meta, serta TikTok, mengubah desain adiktif mereka.
Namun dalam dokumen itu, EU mengakui "aturan yang ada tidak cukup" karena tidak ada "larangan tegas terhadap fitur bermasalah yang umum".
EU menyatakan undang-undang baru akan memperkuat penegakan DSA, yang secara teori memungkinkan denda hingga enam persen dari omzet global tahunan perusahaan.
Desain aman
Pendekatan EU "perlu membatasi akses perusahaan teknologi terhadap anak-anak kita, bukan sebaliknya," demikian bunyi dokumen tersebut.
Selain melarang fitur adiktif, draf itu menyebut EU akan mengatur sistem rekomendasi, yakni algoritma yang menyajikan konten lebih personal.
Tujuannya mengontrol konten yang dipromosikan kepada anak dan menghindari bahaya.
EU ingin akun anak tetap privat, dengan "pengaturan berisiko" dinonaktifkan secara default dan pengguna tak dikenal dicegah menghubungi anak di bawah umur.
Akan ada pula "komitmen khusus" untuk game online dan chatbot AI.
Proposal ini akan menjadi undang-undang setelah negosiasi antara Parlemen Eropa dan negara anggota.