Kekeringan panjang di Kabupaten Purwakarta kian meluas dan memicu kesulitan air bersih bagi ribuan warga.
Warga Campaka mendesak Pemkab Purwakarta bersama Kementerian Agama dan pemuka agama menginisiasi salat Istisqa.
Desakan itu muncul karena kemarau ekstrem dinilai belum ditangani secara responsif.
Seorang ibu rumah tangga asal Campaka menyayangkan sikap Pemkab Purwakarta yang dinilai lambat menginisiasi doa bersama minta hujan dibandingkan daerah lain.
"Heran Purwakarta ini, kemarau sudah memprihatinkan dan warga teriak kekurangan air bersih tetapi bupati dan para pejabatnya diam saja," katanya, Selasa, 15 September 2026.
Krisis Air Bersih di 15 Kecamatan
Data terkini menunjukkan kekeringan melanda 55 desa di 15 kecamatan atau mencakup 35 persen wilayah Purwakarta.
Di Desa Mulyamekar, ratusan warga mengantre berjam-jam membawa jeriken demi pasokan air dari armada tangki BPBD.
Sumur warga di desa itu dilaporkan mengering sejak lima bulan lalu.
Ketua RT setempat, Mulyana, mengungkapkan sebagian warga terpaksa membeli air bersih dengan harga melonjak tinggi demi memenuhi kebutuhan harian.
"Air dalam kemasan galon berkapasitas sekitar 1.000 liter harganya bahkan bisa mencapai Rp80 ribu," ujarnya.
Krisis air bersih juga dibarengi serangan wabah ISPA yang menjangkiti anak-anak.
Kepala Pelaksana BPBD Purwakarta, Heryadi Erlan, mengatakan pihaknya rutin menyalurkan 10-15 meter kubik air bersih saban hari ke titik-titik krisis.