PT PLN (Persero) memperkirakan pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 membutuhkan investasi sekitar US$35 miliar atau setara Rp627,58 triliun.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, mengungkapkan hal tersebut dalam Indonesia Hydropower Summit 2026, Rabu (5/8/2026).
"Estimasi kebutuhan investasi untuk 11.000 MW atau 11 GW PLTA itu mencapai kurang lebih US$35 miliar, dengan asumsi biaya 1 MW investasinya US$3 juta," ujar Suroso.
Total proyek yang akan dikembangkan mencapai 315 proyek. Proyek tersebut dikerjakan oleh independent power producer (IPP), PLN, dan subholding PLN.
Tahapan Proyek PLTA
Berdasarkan catatan PLN, proyek yang sudah mencapai commercial operation date (COD) hingga saat ini baru sekitar 0,6 GW dari total target 11,7 GW.
Sementara itu, proyek dengan kapasitas 2,4 GW masih dalam tahap konstruksi.
Proyek berkapasitas 7,6 GW masih dalam proses pengadaan, sedangkan sisanya, atau proyek berkapasitas 5,3 GW, masih dalam tahap studi kelayakan.