Dani McEwen, mahasiswa di Baldwin Wallace University, Ohio, sempat memakai blazer dan celana panjang senada saat wawancara kerja di sebuah perusahaan asuransi.
Namun, ia baru menyadari bahwa sebagian besar karyawan di sana mengenakan kaos dan celana jeans.
>>> Cara Ajukan Pinjaman Koperasi Merah Putih Online 2026, Waspada Penipuan WhatsApp
"Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah saya mungkin terlihat berlebihan dan terlalu kaku," ujar McEwen, 20 tahun, yang juga mengelola lemari karier mahasiswa berisi pakaian kerja sumbangan di kampusnya.
Dengan semakin maraknya wawancara virtual dan lingkungan kerja yang santai, para kandidat kerja kesulitan menentukan pakaian yang tepat saat bertemu calon pemberi kerja, baik secara online maupun tatap muka.
Setelan rapi dan pakaian bisnis formal yang dulu direkomendasikan penasihat karier kini bukan lagi pilihan utama, terutama ketika pewawancara sendiri tampil dengan hoodie dan celana pendek.
Ketidakcocokan antara konvensi lama dan lingkungan kerja yang lebih fleksibel di era pasca pandemi membuat banyak pelamar bingung ingin tampil seperti apa.
Christina Adamo, penata gaya pribadi di toko Neiman Marcus di Paramus, New Jersey, mengatakan bahwa dalam enam tahun terakhir, semua orang dan segala sesuatu menjadi lebih santai.
"Itu terutama berlaku untuk aturan berpakaian, sebagian besar karena banyak perusahaan beralih ke kerja hybrid dan remote," jelasnya.
Setelan Formal Masih Relevan untuk Posisi Tertentu
Meski demikian, setelan yang dijahit rapi masih sering direkomendasikan untuk wawancara posisi eksekutif dan pekerjaan di bidang hukum serta keuangan, menurut para penata gaya dan perekrut.
Namun, penting untuk meneliti budaya perusahaan terlebih dahulu atau bertanya langsung kepada manajer perekrut tentang aturan berpakaian.
