Tujuh orang berkumpul di ruang lounge lantai lima Hongik Mungo, Seoul, pada 29 Juli untuk berdiskusi tentang novel Albert Camus, "The Stranger."
Mereka adalah anggota klub buku karyawan toko yang menamakan diri Odok Odok, plesetan dari angka lima dan kata membaca dalam bahasa Korea.
>>> Seoul Facilities Corp. Gelar Festival Musim Panas, dari Busking hingga Water Park
Dalam diskusi, seorang anggota berkata, "Seperti cahaya yang menciptakan bayangan, kebenaran datang dengan ketidaknyamanan." Anggota lain menambahkan, "Matahari dalam novel adalah perangkat yang mengungkap kebenaran."
Klub ini diikuti lima dari delapan karyawan saat ini, serta dua mantan karyawan yang kini bekerja di bidang terkait buku namun tetap kembali setiap bulan.
Sejarah Panjang Hongik Mungo
Hongik Mungo terletak di dekat Stasiun Sinchon, Seoul, dan telah berdiri hampir 70 tahun.
Pendirinya, Park In-cheol, memulai dari kios buku jalanan pada 1957, lalu pindah ke gedung lima lantai pada 1978.
Park Se-jin, pemilik generasi kedua yang berusia 58 tahun, memilih tetap membuka toko buku meski bisa menyewakan gedungnya dengan harga lebih tinggi.
Ia ingin menghormati wasiat ayahnya.
Keputusan ini membantu toko bertahan dari persaingan rantai besar dan pengecer online, serta tekanan pembangunan kembali di kawasan Sinchon.
Karyawan dan Program Khas
Bagi Lee Na-won, 40, toko ini memberikan "gaji emosional."
Tujuh karyawan berusia 20-an hingga 40-an memiliki kisah serupa: mereka sengaja mencari pekerjaan di toko buku, dan Hongik Mungo adalah satu-satunya yang membuka lowongan di Seoul.
Menurut survei 2024 oleh Publication Industry Promotion Agency of Korea, jumlah toko buku lokal turun 35 persen dari 3.589 pada 2003 menjadi 2.331.

