Presiden AS Donald Trump kembali mengandalkan sanksi ekonomi untuk menekan Iran setelah perundingan damai gagal mencapai kesepakatan.
Ia yakin bahwa Iran kini berada di ambang kehancuran finansial dan akan menyerah pada tuntutan AS.
>>> Kolombia Cari Korban Hilang Usai Gempa Tewaskan Lebih dari 100 Orang
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim Iran 'bangkrut total' dan tidak mampu membayar tentaranya, dengan inflasi mencapai 300 persen. Namun, angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan pejabat administrasinya sendiri.
Operasi Kemarahan Ekonomi
Sejak April, pemerintahan Trump telah menerapkan apa yang disebut 'Operasi Kemarahan Ekonomi' terhadap Iran. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebutnya sebagai 'padanan finansial' dari kampanye pengeboman.
Langkah ini mencakup sanksi terhadap negara-negara yang membeli minyak Iran atau bertransaksi dengan bank-bank Iran.
Namun, para ahli meragukan efektivitas sanksi yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dampak penutupan Selat Hormuz.
Kritik dan Keraguan
Richard Nephew, peneliti senior di Columbia University, menilai nilai sanksi terbatas karena Trump belum menjelaskan tujuan strategis perang secara jelas.
Ia menambahkan bahwa Trump telah melemahkan posisinya sendiri melalui penggunaan kekuatan yang tidak memadai dan sikap yang berubah-ubah.
Sementara itu, Juan Zarate, mantan penasihat keamanan nasional AS, mengakui bahwa sanksi dan blokade laut memberikan pengaruh ekonomi.
Namun, ia menekankan bahwa semua itu membutuhkan waktu dan kesabaran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengecam langkah AS.
Ia mengatakan bahwa setiap kali Washington gagal dalam diplomasi, mereka kembali ke sanksi, dan jika sanksi gagal, mereka meningkatkan dosisnya.
Ekonomi Iran telah menderita akibat perang, dengan IMF memperkirakan kontraksi 5,4 persen dan inflasi tahunan mencapai 88,6 persen.
Ekspor minyak Iran juga turun drastis dari 1,8 juta barel per hari menjadi kurang dari 500.000 barel per hari.
Trump berpendapat bahwa pemilih AS lebih mampu menoleransi kesulitan ekonomi daripada rakyat Iran yang telah lama menderita.
>>> KH Anwar Zahid Alami Kecelakaan Beruntun dengan Truk Trailer di Bojonegoro
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa AS memiliki ekonomi terkuat dan dapat memberikan tekanan besar pada lawan.
