Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Selasa (11/8/2026) mengumumkan penangguhan izin kepemilikan senjata api menyusul insiden penembakan mematikan di sebuah sekolah pekan lalu.
Ia memerintahkan Kementerian Dalam Negeri dan kepolisian untuk menghentikan penerbitan izin memiliki, membeli, dan membawa senjata api, serta menyerukan kontrol yang lebih ketat dan hukuman yang tegas.
>>> Menguak Naskah Kuno: Wayang dan Politik Kontemporer dalam Satu Buku
Pada Jumat (7/8/2026), seorang anak laki-laki berusia 14 tahun menembak mati kakek-neneknya yang membesarkannya di rumah mereka di Nonthaburi, utara Bangkok.
Setelah itu, ia melukai enam orang di sekolahnya sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri.
Pemakaman Korban
Peti jenazah putih pasangan kakek-nenek tersebut diletakkan di kuil Buddha Tem Rak Samakkhi pada Selasa, bersebelahan dengan potret mereka, sebelum kremasi yang menandai akhir dari upacara pemakaman yang berlangsung beberapa hari.
Peti jenazah anak laki-laki tersebut yang lebih kecil ditempatkan di sisi yang sama di kuil, dikelilingi bunga putih.
Di antara para pelayat, Tawee Piewphong memberikan penghormatan kepada iparnya, sang kakek, sebagai 'pria yang sedikit bicara, tetapi sangat baik hati'.
Tawee, 70 tahun, mengaku terkejut dengan pembunuhan itu dan tidak tahu apa yang memotivasi remaja tersebut, namun ia juga menyampaikan belasungkawa.
'Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa usia 14 hanyalah sebagian kecil dari seluruh hidupmu, dan setiap masalah pasti ada solusinya.
Tidak semuanya adalah akhir dunia,' ujarnya kepada AFP.
Ia menduga anak laki-laki itu mungkin membunuh kakek-neneknya 'agar mereka tidak bertanggung jawab atas tindakan yang akan ia lakukan di sekolah nanti'.
>>> Fakta Baru Sidang: Mayor Faisal Diduga Edarkan Sabu, Pakai Pesawat TNI AL
