Militer Iran pada Kamis (14/8/2026) menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim kendali atas Selat Hormuz.
Teheran menyebut klaim tersebut sebagai kebohongan.
>>> Messi Ragu Lanjut Karier Usai Ayahnya Wafat, Ronaldo Beri Dukungan
Juru bicara komando militer pusat Iran, Khatam-al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan klaim AS bahwa kapal-kapal melintas normal di Selat Hormuz hanyalah kebohongan dan fabrikasi.
Menurut Zolfaghari, Selat Hormuz tetap sepenuhnya di bawah manajemen dan kendali Republik Islam Iran.
Tidak ada kapal dagang atau tanker yang dapat melintas tanpa izin dan pengawasan angkatan bersenjata Iran.
Sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada 28 Februari, Iran menguasai jalur energi vital itu. Kapal-kapal diwajibkan memperoleh izin dan membayar biaya transit sebelum menggunakan selat tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu, Trump mengklaim AS memiliki kendali total atas Selat Hormuz.
Ia menambahkan bahwa blokade laut AS disebut 'Tembok Baja' dan Iran tidak bisa berbuat apa-apa.
Kepala pasukan paramiliter Basij di bawah Garda Revolusi, Hossein Taeb, juga menegaskan selat itu berada di bawah kendali Iran.
>>> Rincian Harga Tiket Kereta Eksekutif Jakarta-Semarang, Mulai Rp255 Ribu
Ia menyatakan negara tersebut melanjutkan jalannya dengan keamanan penuh.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan AS telah lama salah perhitungan akibat kegagalan intelijen.
Ia mencontohkan perang melawan Iran dan kini kesalahan perhitungan yang lebih besar di Selat Hormuz.
Anggota parlemen Iran Behnam Saeedi menyatakan selat itu tertutup bagi kapal AS dan Israel.
Kapal rezim Zionis tidak akan punya hak melintas dalam keadaan perang maupun damai, dan kapal militer AS juga akan dilarang.
Iran dan Oman telah berunding untuk membuka rute baru melalui selat tersebut, namun negosiasi belum final.
>>> Menteri Pertahanan AS: Blokade Laut Iran Tak Akan Berakhir
Teheran mengatakan rute baru tidak akan membuka selat kecuali AS memenuhi tuntutan Iran.

