unique visitors counter
⌂ Beranda News Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Setelah Data Ekonomi AS Lemah

Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Setelah Data Ekonomi AS Lemah

Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Setelah Data Ekonomi AS Lemah
Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Setelah Data Ekonomi AS Lemah
A A Ukuran Teks16px

Saham-saham AS bergerak mendatar di dekat level tertingginya pada Jumat (16/8) setelah laporan ekonomi terbaru yang mengecewakan, kali ini mengenai belanja konsumen di ritel.

Data yang lemah tersebut dapat menjaga suku bunga tetap rendah, yang disukai pasar, namun juga meningkatkan risiko perlambatan ekonomi di tengah inflasi yang masih tinggi.

>>> Srondeng dan Para Jawara Panjat Tebing Dunia Siap Bertarung di EISCC 2026 Bandung

Indeks S&P 500 turun 0,2 persen dari rekor penutupan sehari sebelumnya.

Dow Jones Industrial Average melemah 113 poin atau 0,2 persen pada pukul 11:45 waktu setempat, sementara Nasdaq komposit turun 0,5 persen.

Saham sempat mencatat kenaikan tipis di awal perdagangan, tetapi berbalik melemah setelah harga minyak melonjak.

Harga minyak mentah Brent naik 0,9 persen menjadi 87,88 dolar AS per barel di tengah ketidakpastian mengenai kapan perang dengan Iran akan memungkinkan kapal tanker minyak keluar dari Teluk Persia dengan bebas.

Laporan yang menunjukkan belanja konsumen di ritel AS turun pada bulan lalu dibandingkan bulan sebelumnya juga meningkatkan ketidakpastian.

Para ekonom memperkirakan pertumbuhan, sehingga data tersebut mengejutkan mereka.

Di sisi positif, penurunan belanja dapat mengurangi tekanan inflasi.

Inflasi masih jauh lebih tinggi dari yang diinginkan, tetapi laporan awal pekan ini menunjukkan laju kenaikan harga melambat.

Jika tren tersebut berlanjut, Federal Reserve mungkin menahan diri untuk menaikkan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi memang membantu mengendalikan inflasi, tetapi juga memperlambat ekonomi dan membuat biaya pinjaman lebih mahal.

Namun, data yang lemah seperti laporan pasar tenaga kerja pekan lalu meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

The Fed tidak memiliki alat yang tepat untuk mengatasi ekonomi yang stagnan dan inflasi tinggi secara bersamaan, sehingga stagflasi dianggap sebagai skenario terburuk.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru
stikibot