Lebih dari 70 persen kematian terjadi di komunitas, bukan di pusat kesehatan.
"Orang lebih suka dirawat di rumah, mengira itu keracunan atau penyakit lain," ujar Jean-Paul Malo Lotsima, pejabat masyarakat sipil di Djugu, Ituri.
Flavier Ngurima, warga Nizi, menceritakan saudaranya meninggal sebelum mencapai pusat perawatan. "Kami memanggil perawat keluarga untuk merawatnya di rumah karena takut ke pusat perawatan.
Mereka bilang banyak orang mati di sana," katanya.
Tantangan
Akses ke komunitas terdampak juga terhambat oleh kelompok bersenjata. Front antara tentara Kongo dan kelompok M23 yang didukung Rwanda membagi provinsi Kivu Utara dan Selatan.
Respons internasional dikritik lambat dan tidak terorganisir.
Staf lokal, termasuk perawat dan petugas pemakaman, mogok kerja di beberapa rumah sakit di Ituri untuk menuntut bonus.
>>> HUT ke-81 RI: Wali Kota Depok Fokus pada Pendidikan, Infrastruktur, dan Layanan Digital
Dewan Perawat Internasional mendesak otoritas DRC memberikan gaji dan perlindungan layak bagi petugas kesehatan. Beberapa vaksin sedang diuji untuk melawan strain Ebola saat ini.
