unique visitors counter
⌂ Beranda News Wabah Ebola di Kongo Jadi Terburuk Sepanjang Sejarah dengan 2.325 Kematian
News

Wabah Ebola di Kongo Jadi Terburuk Sepanjang Sejarah dengan 2.325 Kematian

Wabah Ebola di Kongo Jadi Terburuk Sepanjang Sejarah dengan 2.325 Kematian
Wabah Ebola di Kongo Jadi Terburuk Sepanjang Sejarah dengan 2.325 Kematian
A A Ukuran Teks16px

Wabah Ebola di Kongo kini menjadi yang terburuk dalam sejarah negara tersebut, dengan jumlah kematian melebihi 2.300 orang.

Data pemerintah yang dirilis Senin menunjukkan 4.945 kasus termasuk 2.325 kematian, menjadikannya wabah Ebola dengan penyebaran tercepat yang pernah tercatat.

>>> Siswa SMA di Filipina Tembak Teman Sekelas lalu Bunuh Diri, Wali Kota Konfirmasi

Angka ini melampaui wabah 2018-2020 yang menewaskan 2.299 orang dari 3.481 kasus.

Dalam 24 jam terakhir, tercatat 101 kasus baru dan 33 kematian.

Lebih dari 1.000 orang telah pulih, sementara 730 lainnya masih dirawat di rumah sakit atau isolasi.

Tantangan Penanganan

Trish Newport, koordinator darurat Doctors Without Borders (MSF), mengatakan keterlibatan masyarakat yang terbatas menjadi tantangan utama.

"Masyarakat perlu sadar akan wabah ini," katanya kepada Associated Press, seraya menambahkan bahwa mereka perlu dilibatkan dalam respons dan mengetahui gejala serta langkah yang harus diambil jika sakit.

Dari kasus pertama, wabah ini mencapai 2.000 kematian hampir tiga kali lebih cepat dibandingkan wabah 2014-2016.

Beberapa keluarga kehilangan hingga 15 kerabat di pusat wabah, Provinsi Ituri, kata Newport.

>>> Oknum Polisi Diduga Stalk Mantan Pacar di CFD Rasuna Said, Ini Kata Korban

Belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk virus Bundibugyo yang langka, yang menyebabkan wabah di enam provinsi di timur Kongo.

Uji coba untuk itu sedang berlangsung di Ituri.

Tantangan lain termasuk pemogokan petugas kesehatan yang tidak dibayar, ancaman kelompok pemberontak, kemarahan masyarakat yang trauma, jalan buruk, dan misinformasi yang mengklaim Ebola tidak nyata.

WHO memperingatkan akhir pekan lalu bahwa wabah masih bergerak dengan "kecepatan luar biasa", dengan rekor mingguan 579 kasus dan 304 kematian.

Para ahli percaya virus telah menyebar di kota pertambangan Mongbwalu sejak Februari, berbulan-bulan sebelum otoritas mengumumkan wabah pada 15 Mei.

Pada Jumat, kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengumumkan alokasi tambahan $30,5 juta dan pengerahan 20 staf lagi untuk membantu respons di garis depan.

>>> Demo 18 Agustus 2026: Cek Jadwal dan Lokasi Aksi di Jakarta-Bogor

"Ini adalah panggilan bangun," kata Fletcher. "Kita butuh kecepatan, skala, dan solidaritas sebelum virus ini semakin maju."

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot