Masalah utama ada pada penampilan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran utama. Ia tidak cukup meyakinkan sebagai tukang copet yang terdorong masalah ekonomi.
Gurat-gurat lelah mencari recehan uang absen dari wajah Iqbaal. Tampilannya masih terlalu mulus dan borjuis untuk mewakili mereka yang pusing mencari uang untuk makan hari ini.
Meski ada sebagian momen emosional yang cukup baik, Iqbaal masih kurang latihan 'merendah' untuk merasakan kehidupan karakter yang ia wakili.
Beruntung, sebagian pemain lain tampil memuaskan. Fauzan Lubis sebagai Silet berhasil membuat kelicikan karakternya terasa natural, seperti abang tongkrongan dari kelas bawah.
Kristo Immanuel sebagai Adut, Kawai Labiba sebagai Melodi, dan Zulfa Maharani sebagai Tia juga berhasil menghidupkan karakter kawan-kawan Ijal dalam aksi pencopetan.
Kebersamaan dan kehidupan para karakter dalam skena anak konser justru lebih terasa mampu dibangun Edy dan Rino. Hal ini lebih kuat dibandingkan suspense ala film heist.
>>> K-pop Report Card: Rilisan Juli-Agustus, dari Tropikal hingga yang Mengecewakan
Kisah Ijal, Adut, Melodi, dan Tia menjadi pengingat hangat bahwa di tengah sulitnya kehidupan, masih ada orang-orang yang menjadi tempat pulang dan bertahan bersama.