unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Resensi Plant Lady: Novel Horor Nyaman yang Menghibur dari Minyoung Kang
Lifestyle

Resensi Plant Lady: Novel Horor Nyaman yang Menghibur dari Minyoung Kang

Sampul buku Plant Lady karya Minyoung Kang
Resensi Plant Lady: Novel Horor Nyaman yang Menghibur dari Minyoung Kang
A A Ukuran Teks16px

Toko tanaman yang rimbun di lingkungan perumahan yang tenang, seorang wanita yang merawat daun dan tunas dengan kelembutan seorang ibu, serta beberapa kucing—semua elemen khas bacaan nyaman ada dalam novel Plant Lady karya Minyoung Kang.

Namun, jangan terkecoh. Di balik kehangatan itu, tersembunyi pembunuhan yang brutal.

Saran saya: lewati sinopsisnya. Jangan membacanya sama sekali.

Pengalaman membaca akan jauh lebih berdampak jika Anda tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kemarahan Feminin dan Horor yang Nyaman

Dalam catatan penulisnya, Kang mengaku lelah membaca kisah tentang perempuan yang mati tanpa alasan jelas.

Ia ingin menulis cerita di mana perempuan diingat, bukan selalu menderita atau mati.

Di Plant Lady, penderitaan dan kematian justru dialami oleh laki-laki: mereka yang menganggap remeh perempuan, memperlakukan mereka sebagai properti, atau melakukan kekerasan.

Tokoh utama, Yoohee, pemilik Plant Shop, selalu punya nasihat atau sesuatu yang lebih 'berdampak' jika nasihat gagal.

Dengan banyaknya adegan berdarah, novel ini jelas bergenre horor.

Namun, kemampuannya memadukan kenyamanan psikologis khas fiksi cozy dengan sensasi horor menciptakan subgenre baru: cozy horror.

Sastra Korea memang mendominasi genre yang paradoks ini.

Cho Yeeun, misalnya, menghangatkan sekaligus mencekam lewat Teddy Bears Never Die, sementara Choi Jin-young memukau pembaca dengan Hunger yang menggambarkan cinta melalui kanibalisme.

Cara kekerasan digambarkan dalam Plant Lady mengingatkan pada karya Bora Chung, nominasi International Booker Prize.

Chung pernah mengatakan bahwa sebagian motivasinya menulis adalah mewujudkan fantasi kekerasan terhadap penjahat yang mustahil dilakukan di dunia nyata.

Seperti Chung, Kang menghadirkan keadilan dengan cara yang memuaskan dan berdarah.

Tanpa Ketegangan, Murni Dopamin

Meski penuh kekerasan, Plant Lady tidak menyajikan ketegangan atau momen menegangkan.

Ketenangan Yoohee yang hampir tidak manusiawi membuat pembaca yakin ia akan selalu selamat.

Rasa aman ini menjaga pembaca dalam zona nyaman meski plot berjalan liar.

Narasi langsung menanjak dari awal dan terus melaju cepat sepanjang 198 halaman.

Pembaca tidak diberi waktu untuk bernapas, murni didorong oleh dopamin.

Struktur omnibus membuat setiap bab dimulai dan diakhiri dengan rapi, mengurangi beban mental.

Terjemahan Shanna Tan, yang juga menerjemahkan Welcome to the Hyunam-dong Bookshop, menyenangkan dengan permainan kata bertema tanaman.

Misalnya, saat Yoohee memutuskan pindah, ia ditanya, 'Haruskah kau mencabut akarmu?' dan saat mengatasi hama, ia harus 'memotong masalah sejak tunasnya'.

Bagi pembaca yang bosan dengan formula ceria yang itu-itu saja, Plant Lady adalah langkah keluar dari zona nyaman yang pas.

Novel ini tersedia di dbbooks. co.

kr.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru