Toko tanaman yang rimbun di lingkungan perumahan yang tenang, seorang wanita yang merawat daun dan tunas dengan kelembutan seorang ibu, serta beberapa kucing—semua elemen khas bacaan nyaman ada dalam novel Plant Lady karya Minyoung Kang.
Namun, jangan terkecoh. Di balik kehangatan itu, tersembunyi pembunuhan yang brutal.
>>> Penulis Pemenang Booker Prize Paul Lynch dan Danielle McLaughlin Bakal Kunjungi Seoul
Saran saya: lewati sinopsisnya. Jangan membacanya sama sekali.
Pengalaman membaca akan jauh lebih berdampak jika Anda tidak tahu apa yang akan terjadi.
Kemarahan Feminin dan Horor yang Nyaman
Dalam catatan penulisnya, Kang mengaku lelah membaca kisah tentang perempuan yang mati tanpa alasan jelas.
Ia ingin menulis cerita di mana perempuan diingat, bukan selalu menderita atau mati.
Di Plant Lady, penderitaan dan kematian justru dialami oleh laki-laki: mereka yang menganggap remeh perempuan, memperlakukan mereka sebagai properti, atau melakukan kekerasan.
Tokoh utama, Yoohee, pemilik Plant Shop, selalu punya nasihat atau sesuatu yang lebih 'berdampak' jika nasihat gagal.
Dengan banyaknya adegan berdarah, novel ini jelas bergenre horor.
Namun, kemampuannya memadukan kenyamanan psikologis khas fiksi cozy dengan sensasi horor menciptakan subgenre baru: cozy horror.
Sastra Korea memang mendominasi genre yang paradoks ini.
Cho Yeeun, misalnya, menghangatkan sekaligus mencekam lewat Teddy Bears Never Die, sementara Choi Jin-young memukau pembaca dengan Hunger yang menggambarkan cinta melalui kanibalisme.
Cara kekerasan digambarkan dalam Plant Lady mengingatkan pada karya Bora Chung, nominasi International Booker Prize.
Chung pernah mengatakan bahwa sebagian motivasinya menulis adalah mewujudkan fantasi kekerasan terhadap penjahat yang mustahil dilakukan di dunia nyata.
>>> Peace Walk di Chuncheon Ramaikan Kejuaraan Poomsae Taekwondo Dunia 2026
