Kondisi hipoksia ini selanjutnya diduga menjadi pemicu utama gangguan fungsi kardiovaskular. Jantung dan pembuluh darah tidak lagi mampu mengkompensasi kekurangan oksigen, yang berujung pada kegagalan multi-organ dan kematian Sampurna. Hasil ini menjadi bukti ilmiah yang tak terbantahkan mengenai betapa mematikannya polusi udara akibat karhutla bagi satwa liar.
Refleksi dan Panggilan untuk Aksi Nyata
Kematian Sampurna bukan sekadar angka statistik dalam laporan konservasi. Ia adalah representasi dari ribuan satwa lain yang terusir, menderita, dan kehilangan nyawa akibat ulah manusia yang memicu kebakaran hutan. Habitat yang seharusnya menjadi rumah aman bagi mereka, berubah menjadi jebakan maut yang dipenuhi asap beracun.
Peristiwa ini seharusnya menjadi titik balik bagi semua pemangku kepentingan. Penegakan hukum terhadap pembakar hutan, restorasi ekosistem yang rusak, serta peningkatan patroli dan sistem peringatan dini karhutla harus diperkuat. Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk lebih peduli, tidak hanya dengan membagikan video viral, tetapi juga dengan mendukung gerakan pelestarian lingkungan dan menekan perusahaan atau pihak yang lalai terhadap kelestarian hutan.
Sampurna telah pergi untuk selamanya, namun warisan perjuangannya untuk bertahan hidup di tengah kepungan asap harus menjadi bahan bakar bagi kita semua untuk lebih gigih melindungi paru-paru dunia yang tersisa. Semoga tidak ada lagi "Sampurna" berikutnya yang harus meregang nyawa akibat bencana yang sebenarnya bisa dicegah.