Kabar duka yang mendalam menyelimuti dunia konservasi satwa liar di Indonesia. Sampurna, seekor orangutan yang sebelumnya viral di media sosial karena sempat pingsan kehabisan oksigen akibat paparan tebal kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tragis ini tidak hanya menjadi kehilangan bagi para pecinta satwa, tetapi juga menjadi pengingat pahit dan nyata akan dampak destruktif bencana ekologis terhadap keanekaragaman hayati Indonesia yang semakin terancam.
Kronologi Penemuan: Saat Napas Sampurna Mulai Terenggut
Berawal dari sebuah video yang viral di berbagai platform media sosial, publik dikejutkan oleh kondisi memprihatinkan seekor orangutan yang terlihat lemas dan nyaris tak sadarkan diri di tengah kepungan asap tebal. Video tersebut dengan cepat menyita perhatian warganet dan memicu kepedulian berbagai pihak untuk segera bertindak.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, Sampurna ditemukan dalam kondisi yang sangat lemah. Satwa yang menjadi ikon hutan Kalimantan ini mengalami gangguan pernapasan akut yang diduga kuat disebabkan oleh hirupan partikel berbahaya dari kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayah Ketapang. Kondisi ini secara langsung mengancam nyawanya, memaksa para pemerhati lingkungan untuk segera turun tangan.
Kolaborasi Darurat BKSDA dan YIARI untuk Menyelamatkan Nyawa
Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bergerak cepat berkolaborasi dengan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI). Keduanya menginisiasi upaya penyelamatan darurat dengan standar protokol medis satwa liar yang ketat.
Tim gabungan di lapangan segera memberikan pertolongan pertama yang krusial. Sampurna mendapatkan terapi oksigen untuk membantu mengembalikan kadar oksigen dalam darahnya, serta pemberian cairan intravena untuk mencegah dehidrasi parah dan menstabilkan kondisi tubuhnya yang kian drop.
Dengan penuh kehati-hatian, Sampurna kemudian dievakuasi dan dibawa ke pusat rehabilitasi milik YIARI pada pukul 11.30 Waktu Indonesia Barat (WIB). Tujuan utama pemindahan ini adalah agar satwa malang tersebut mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif dan komprehensif di bawah pengawasan dokter hewan spesialis.
Detik-detik Perjuangan yang Berakhir Duka
Meskipun telah mendapatkan perawatan terbaik, kondisi fisiologis Sampurna terus mengalami penurunan yang signifikan. Sekitar pukul 14.00 WIB, tim medis mencatat bahwa pernapasan orangutan tersebut semakin dangkal. Saturasi oksigen dalam tubuhnya berada di tingkat yang tidak terdeteksi, menandakan kegagalan sistem pernapasan yang kritis.
Melihat tanda-tanda henti napas yang mengancam, tim medis secara sigap melakukan upaya resusitasi jantung dan paru atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). Segala daya upaya telah dikerahkan dalam pertarungan melawan waktu ini. Namun, takdir berkata lain. Setelah perjuangan yang melelahkan, Sampurna akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 15.20 WIB.
"Kami sangat menyayangkan dan berduka cita yang mendalam karena Sampurna tidak dapat diselamatkan," ujar Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, dalam keterangannya pada Kamis, 3 September 2026. Pernyataan ini menegaskan rasa frustrasi dan kesedihan yang dialami oleh para petugas yang telah berjuang keras menyelamatkan nyawa satwa dilindungi tersebut.
Hasil Nekropsi: Bukti Nyata Dampak Mematikan Asap Karhutla
Untuk memastikan penyebab pasti kematian dan mendokumentasikan dampak medis dari bencana ini, tim dokter hewan melakukan prosedur nekropsi (bedah bangkai) pada Selasa, 1 September 2026. Hasil pemeriksaan post-mortem mengungkapkan temuan yang mengkhawatirkan.
Ditemukan perubahan patologis yang signifikan pada bagian paru-paru Sampurna. Kerusakan ini diduga kuat berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla dalam jangka waktu tertentu. Partikel halus dan gas beracun dari asap tersebut telah mengganggu fungsi organ vital, memicu peradangan serius, dan pada akhirnya menyebabkan hipoksia akut (kekurangan oksigen parah pada tingkat jaringan).
Kondisi hipoksia ini selanjutnya diduga menjadi pemicu utama gangguan fungsi kardiovaskular. Jantung dan pembuluh darah tidak lagi mampu mengkompensasi kekurangan oksigen, yang berujung pada kegagalan multi-organ dan kematian Sampurna. Hasil ini menjadi bukti ilmiah yang tak terbantahkan mengenai betapa mematikannya polusi udara akibat karhutla bagi satwa liar.
Refleksi dan Panggilan untuk Aksi Nyata
Kematian Sampurna bukan sekadar angka statistik dalam laporan konservasi. Ia adalah representasi dari ribuan satwa lain yang terusir, menderita, dan kehilangan nyawa akibat ulah manusia yang memicu kebakaran hutan. Habitat yang seharusnya menjadi rumah aman bagi mereka, berubah menjadi jebakan maut yang dipenuhi asap beracun.
Peristiwa ini seharusnya menjadi titik balik bagi semua pemangku kepentingan. Penegakan hukum terhadap pembakar hutan, restorasi ekosistem yang rusak, serta peningkatan patroli dan sistem peringatan dini karhutla harus diperkuat. Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk lebih peduli, tidak hanya dengan membagikan video viral, tetapi juga dengan mendukung gerakan pelestarian lingkungan dan menekan perusahaan atau pihak yang lalai terhadap kelestarian hutan.
Sampurna telah pergi untuk selamanya, namun warisan perjuangannya untuk bertahan hidup di tengah kepungan asap harus menjadi bahan bakar bagi kita semua untuk lebih gigih melindungi paru-paru dunia yang tersisa. Semoga tidak ada lagi "Sampurna" berikutnya yang harus meregang nyawa akibat bencana yang sebenarnya bisa dicegah.