Kabar duka yang mendalam menyelimuti dunia konservasi satwa liar di Indonesia. Sampurna, seekor orangutan yang sebelumnya viral di media sosial karena sempat pingsan kehabisan oksigen akibat paparan tebal kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tragis ini tidak hanya menjadi kehilangan bagi para pecinta satwa, tetapi juga menjadi pengingat pahit dan nyata akan dampak destruktif bencana ekologis terhadap keanekaragaman hayati Indonesia yang semakin terancam.
Kronologi Penemuan: Saat Napas Sampurna Mulai Terenggut
Berawal dari sebuah video yang viral di berbagai platform media sosial, publik dikejutkan oleh kondisi memprihatinkan seekor orangutan yang terlihat lemas dan nyaris tak sadarkan diri di tengah kepungan asap tebal. Video tersebut dengan cepat menyita perhatian warganet dan memicu kepedulian berbagai pihak untuk segera bertindak.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, Sampurna ditemukan dalam kondisi yang sangat lemah. Satwa yang menjadi ikon hutan Kalimantan ini mengalami gangguan pernapasan akut yang diduga kuat disebabkan oleh hirupan partikel berbahaya dari kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayah Ketapang. Kondisi ini secara langsung mengancam nyawanya, memaksa para pemerhati lingkungan untuk segera turun tangan.
Kolaborasi Darurat BKSDA dan YIARI untuk Menyelamatkan Nyawa
Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bergerak cepat berkolaborasi dengan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI). Keduanya menginisiasi upaya penyelamatan darurat dengan standar protokol medis satwa liar yang ketat.
Tim gabungan di lapangan segera memberikan pertolongan pertama yang krusial. Sampurna mendapatkan terapi oksigen untuk membantu mengembalikan kadar oksigen dalam darahnya, serta pemberian cairan intravena untuk mencegah dehidrasi parah dan menstabilkan kondisi tubuhnya yang kian drop.