Hujan sering kali menjadi momok bagi pengemudi karena dapat mengurangi jarak pandang. Air, kabut, atau kaca depan yang kotor membuat objek di sekitar lebih sulit terlihat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia.
Angka ini menunjukkan bahwa keselamatan berkendara membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek.
Dalam sebuah diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026), Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kemenhub RI, Heri Prabowo, menekankan pentingnya menjaga keselamatan kendaraan sepanjang siklus hidupnya.
"Keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal, yakni kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung," ujar Heri.
Visibilitas Kunci Keselamatan
Pengamat otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menyebut visibilitas sebagai faktor penting karena sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual.
Hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen.
Kaca yang kotor atau tidak tersapu optimal dapat memperlambat pengemudi dalam mendeteksi bahaya. Oleh karena itu, kondisi wiper perlu menjadi perhatian serius.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, menyarankan wiper diperiksa secara berkala dan idealnya diganti setiap enam bulan.
"Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian," katanya.
Selain kondisi karet, kesesuaian produk, pemasangan, dan keaslian wiper juga menentukan kinerjanya. Konsumen disarankan memilih produk melalui kanal terpercaya.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, menegaskan bahwa teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi manusia melalui prinsip Invented for Life.
Inovasi wiper Bosch selama satu abad menjadi bukti komitmen tersebut.
