Ia menegaskan bahwa keputusannya bukan untuk misi politik, melainkan karena lucu dan tepat waktu.
Kim tidak menganggap komedi harus selalu menjadi ceramah moral, tetapi harus merespons situasi di ruangan.
Ia mengaku tidak tahu batas sosial karena bukan orang Meksiko, jadi ia harus mencoba dan belajar dari reaksi penonton.
Pengalamannya dipanggil "chino" di Peru mengajarkannya bahwa ketidaktahuan bahasa bisa menimbulkan ketakutan dan prasangka.
Kim menyadari bahwa terkadang ia sendiri yang berprasangka, dan setelah meminta dipanggil "coreano", banyak yang minta maaf.
Ia membedakan antara komentar kasar yang tidak tahu dan niat jahat, dengan melihat konteks dan perasaan di balik kata-kata.
Kim berkata, "Jika saya mengolok-olok Meksiko, itu karena saya suka Meksiko. Itu terlihat."
Bagi Kim, komedi bukan sekadar pekerjaan, melainkan sikap hidup.
Ia sedang menghadapi masalah visa keluarganya, yang membuatnya stres, tetapi ia yakin suatu saat bisa mengubahnya menjadi lelucon.
Kim awalnya berencana tinggal di Meksiko sekitar sepuluh tahun, tetapi sekarang ia ingin menjadi "seseorang yang hidup di Bumi".
Ia berharap dapat terus melakukan stand-up comedy sepanjang hidupnya, karena selalu ada cerita baru tentang penuaan, kegagalan, dan kehidupan.