unique visitors counter
⌂ Beranda News September Hitam di Indonesia: Rentetan Peristiwa Kelam dari G30S hingga Munir
News

September Hitam di Indonesia: Rentetan Peristiwa Kelam dari G30S hingga Munir

Ilustrasi peristiwa kelam di Indonesia pada bulan September
A A Ukuran Teks16px

September bukan sekadar pergantian bulan. Di Indonesia, bulan ini kerap dikaitkan dengan sejumlah peristiwa kelam yang meninggalkan luka panjang.

Rangkaian peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan istilah September Hitam. Istilah ini merujuk pada berbagai kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi pada September.

Mulai dari tragedi 1965, Tanjung Priok, Semanggi, pembunuhan aktivis HAM Munir, hingga konflik agraria di Rempang. Semua terjadi pada periode dan latar belakang berbeda.

Namun, ada satu persoalan yang mempertemukannya: tuntutan terhadap keadilan dan pertanggungjawaban atas kekerasan yang menimpa masyarakat.

Tragedi 1965 hingga Semanggi

Salah satu peristiwa penting dalam ingatan September adalah tragedi politik 1965. Peristiwa setelah 30 September 1965 diikuti penangkapan, kekerasan, hingga pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh terkait PKI.

Puluhan tahun berlalu, tetapi peristiwa tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah dan persoalan HAM yang belum tuntas.

Catatan kelam kembali muncul pada Tragedi Tanjung Priok 12 September 1984. Kekerasan terjadi saat massa berunjuk rasa di Jakarta Utara dan berhadapan dengan aparat.

Memasuki era Reformasi, persoalan serupa belum berhenti. Pada September 1999, Tragedi Semanggi II terjadi ketika mahasiswa berdemonstrasi menolak sejumlah kebijakan pemerintah.

Bentrokan dan kekerasan menyebabkan korban jiwa.

Munir, Salim Kancil, dan Mahasiswa Kendari

September juga mengingatkan publik pada sosok aktivis HAM Munir Said Thalib. Ia meninggal pada 7 September 2004 dalam perjalanan menuju Belanda setelah diracun menggunakan arsenik.

Kematian Munir menjadi salah satu kasus yang terus mendapat perhatian publik. Perjuangan mengungkap seluruh rangkaian perkara dan memastikan keadilan bagi keluarga korban masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya 26 September 2015, Salim Kancil, seorang petani di Lumajang, Jawa Timur, meninggal setelah menjadi korban kekerasan terkait penolakannya terhadap aktivitas penambangan pasir ilegal.

📰 Update Terbaru