unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Paviliun Kanada di Gwangju Biennale Angkat Visi Perdamaian Suku Mohawk
Lifestyle

Paviliun Kanada di Gwangju Biennale Angkat Visi Perdamaian Suku Mohawk

Paviliun Kanada di Gwangju Biennale menampilkan karya seni suku Mohawk
Paviliun Kanada di Gwangju Biennale Angkat Visi Perdamaian Suku Mohawk
A A Ukuran Teks16px

Paviliun Kanada di Gwangju Biennale 2025 mengusung tema yang menohok: 'Skennen'kó:wa ken? — Do You Carry Great Peace?'

atau 'Apakah Anda Membawa Perdamaian Besar?'

Tema ini sejalan dengan tema besar biennale, 'You Must Change Your Life', namun lebih spesifik dan menuntut refleksi pribadi.

Duta Besar Kanada untuk Korea, Philippe Lafortune, menjelaskan bahwa judul pameran berasal dari sapaan harian suku Kanien'kehá:ka (Mohawk).

"Ini lebih dari sekadar sapaan.

Ini juga pertanyaan yang menanyakan apa yang kita bawa ke komunitas dan hubungan kita satu sama lain," ujarnya dalam sambutan pembukaan di Museum Lee Kang Ha, Jeonnam-Gwangju, 5 September.

Tiga Seniman Perempuan Mohawk

Paviliun nasional ini menampilkan karya Hannah Claus, Shelley Niro, dan Melissa General, tiga seniman berdarah Kanien'kehá:ka (Mohawk).

Dalam masyarakat Haudenosaunee, perempuan memegang peran penting sebagai pemberi kehidupan, penjaga tanah, dan pemelihara perdamaian.

Peran dan tanggung jawab ini dieksplorasi melalui karya-karya yang kuat dan bermakna dari ketiga seniman tersebut.

Ana Serrano, presiden Ontario College of Art and Design (OCAD), menambahkan bahwa pertanyaan ini berakar pada Hukum Besar Perdamaian Haudenosaunee.

"Perdamaian dipahami bukan sebagai sesuatu yang pasif, tetapi sebagai sesuatu yang dibawa melalui hubungan, tanggung jawab, dan komunitas," jelasnya.

Menurutnya, tema ini sangat relevan dengan Gwangju, kota yang sejarahnya mengingatkan bahwa demokrasi bergantung pada keberanian, imajinasi, dan partisipasi.

Koneksi dengan Sejarah Gwangju

Lafortune juga menyoroti makna kota tuan rumah yang menjadi lokasi Gerakan Demokratik 18 Mei 1980.

"Sejarah Gwangju, terutama Gerakan Demokratik 18 Mei, memberi kota ini tempat unik dalam kisah demokrasi, hak asasi manusia, dan martabat Korea," katanya.

📰 Update Terbaru