Amerika Serikat berhasil melonggarkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir. Ekspor minyak Iran sendiri nyaris terhenti total.
Namun, perang yang diluncurkan AS dan Israel pada Februari lalu masih jauh dari selesai. Kebuntuan ini menimbulkan biaya besar bagi kedua pihak.
Kesepakatan yang dicapai pada Juni cepat runtuh tanpa tanda kemajuan diplomatik. Pertempuran tingkat rendah terus berlanjut dan AS tampak tidak memiliki strategi keluar.
Tekanan ekonomi yang meningkat pada Iran belum memicu pemberontakan. Jika para pemimpinnya terpojok, mereka mungkin memilih eskalasi militer daripada menyerah.
Sekutu Houthi di Yaman meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Harga minyak mentah Brent kembali melonjak di atas 100 dolar AS per barel pekan ini.
Harga diesel yang banyak digunakan di transportasi dan pertanian mencapai rekor. Ini berpotensi memicu inflasi.
Presiden AS Donald Trump mengakui harga bensin kemungkinan tetap tinggi hingga pemilu kongres paruh waktu.
Mona Yacoubian, pakar Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies di Washington, menilai AS tidak menang dalam perang dengan Iran.
Menurutnya, Iran tidak menunjukkan tanda mundur dan justru bersedia melawan serta melakukan eskalasi di mana pun bisa.
Ia memperkirakan perang akan berlarut-larut tanpa pemenang yang jelas.
Iran kehilangan pengaruh saat minyak mengalir melalui Selat Hormuz
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz pada hari-hari awal perang. Selat itu dilalui seperlima minyak dan gas dunia pada masa damai.
Iran menggunakan guncangan ekonomi global sebagai alat tawar. Sementara itu, Iran tetap mengekspor minyaknya sendiri, terutama ke China.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, keseimbangan berbalik. Blokade AS hampir menghentikan ekspor Iran, sementara militer AS memfasilitasi ekspor lebih besar dari negara-negara Teluk.
