Sejumlah film Indonesia dan karya produksi bersama perusahaan film Indonesia terpilih masuk seleksi Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Festival ini dijadwalkan berlangsung 6-15 Oktober 2026 dan kompetisi utamanya menjadi salah satu jalur menuju Oscar.
BIFF memiliki sejumlah program, antara lain Kompetisi Utama, Gala Presentation, Icons, A Window on Asian Cinema, dan Wide Angle Competition.
Kompetisi Utama memperebutkan Busan Award - Best Film Award yang menjadi tiket emas menuju kategori International Feature Film Academy Awards tanpa melalui Komite Oscar masing-masing negara.
Tahun ini, Kompetisi Utama Busan diikuti 14 film dari Korea, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Iran, Uzbekistan, dan Indonesia.
Gala Presentation menghadirkan lima karya yang telah mendapat pengakuan global dan dikurasi secara cermat, dihadiri langsung para sutradara dan pemerannya.
Kategori Icons menampilkan 35 film karya maestro sinema dunia masa kini yang menyoroti estetika dan narasi khas lanskap sinema global.
A Window on Asian Cinema menampilkan karya sineas Asia mapan maupun talenta baru, sedangkan Wide Angle menghadirkan film pendek dan dokumenter pilihan.
Empat film Indonesia terpilih berkompetisi di BIFF 2026: dua film masuk Kompetisi Utama, satu film masuk A Window on Asian Cinema, dan satu film masuk Wide Angle - Asian Short Film Competition.
Selain itu, ada dua film karya sineas asing yang merupakan produksi bersama perusahaan film Indonesia.
Film Indonesia di BIFF 2026
1. Ibuku
Sutradara: Eddie Cahyono. Program: Kompetisi Utama.
Ibuku (My Mother) berkisah tentang Sumiati (Christine Hakim), seorang ibu yang berjuang menemui anaknya, Sri (Ayushita), yang divonis hukuman mati di penjara Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya.
Di balik upaya pertemuan itu, berbagai luka lama antara ibu dan anak akan terungkap, sekaligus isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia yang digarap secara personal.
2. The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita)
Sutradara: Yosep Anggi Noen. Program: Kompetisi Utama.
Di saat suasana muram karena ditangkapnya mahasiswa akibat membaca buku terlarang, Biru Laut mulai tergerak hatinya.
Sebagai mahasiswa di kampus Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis, keadaan itu mendorong Laut dan kawan-kawannya bergabung dengan kelompok studi Winatra.
Mereka berdiskusi dan bergerak memperjuangkan kebebasan berekspresi.
3. Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi)
Sutradara: Kamila Andini. Program: A Window on Asian Cinema.
Pertiwi (Putri Marino) kembali ke kampung halaman terpencilnya setelah 20 tahun demi menata ulang hidupnya.
Saat ia pergi dulu, masuknya aliran listrik sempat membawa harapan bagi desa tersebut, namun fasilitas itu tidak banyak membawa perubahan berarti.
Desa itu justru terasa lebih kelam dari sebelumnya.
Situasi pun berat: sahabatnya menikah dengan mantan kekasihnya, orang tuanya memusuhi kepulangannya, dan sosok keibuan yang dulu menjadi tempatnya mencari kenyamanan telah terusir.
Yang terparah, orang-orang yang dulu menjebloskannya ke penjara kini justru menjadi pihak yang paling berkuasa.
4. αLPα
Sutradara: Dhiwangkara Seta. Program: Wide Angle - Asian Short Film Competition.
Setelah ditangkap, Banyu yang merupakan vokalis punk dikirim ke pusat rehabilitasi moral.
Di sana, ia bertemu Deri, hantu dari masa lalunya dan ulama terhormat di kota tersebut.
Banyu melawan sistem yang mengurungnya, hanya untuk menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk bebas ada pada orang terakhir yang ingin ia temui.
Produksi Bersama Indonesia
5. 9 Temples to Heaven
Sutradara: Sompot Chidgasornpongse. Produksi bersama: Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, Qatar.
Program: A Window on Asian Cinema.
6. Hearing
Sutradara: Le Bao. Produksi bersama: Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, Taiwan.
Program: A Window on Asian Cinema.