unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Viral dan Kontroversial! 4 Fakta Karnaval Pekalongan: Dari Dugaan Satanisme hingga Kematian Pengrajin Batik Berkostum Monster
News

Viral dan Kontroversial! 4 Fakta Karnaval Pekalongan: Dari Dugaan Satanisme hingga Kematian Pengrajin Batik Berkostum Monster

Viral dan Kontroversial! 4 Fakta Karnaval Pekalongan: Dari Dugaan Satanisme hingga Kematian Pengrajin Batik Berkostum Monster
Pekalongan • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Jagat maya kembali dihebohkan dengan sebuah peristiwa kontroversial yang berasal dari Kota Batik. Acara Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang digelar di Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi sorotan tajam publik dan memicu perdebatan panas di berbagai platform media sosial.

Bukan karena kemeriahan atau kreativitas warganya, karnaval yang berlangsung pada Kamis (10/9/2026) malam ini justru ditutupi oleh awan gelap polemik. Mulai dari dugaan kuat adanya unsur satanisme dalam pertunjukan teatrikal, kerusuhan, hingga kabar duka atas meninggalnya salah satu peserta karnaval.

Kegiatan yang sejatinya bernuansa religius dan budaya ini pun berubah menjadi buah bibir yang meresahkan. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan tersebut?

Berikut adalah rangkuman fakta lengkap dan kronologi di balik kontroversi Karnaval Pekalongan yang viral sepanjang akhir pekan ini.

1. Ironi Puncak Hajatan Khitanan Massal dan Maulid Nabi

Banyak warganet yang mungkin belum tahu bahwa Simbang Kulon Night Carnival sejatinya bukan sekadar pesta jalanan biasa. Acara ini merupakan puncak dari tradisi khitanan massal yang telah mengakar kuat dan rutin digelar selama 61 tahun terakhir, sekaligus dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Mengusung tema "Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran" (Bersatu dalam Budaya, Memperkuat Persaudaraan), karnaval tahun ini diikuti oleh 25 barisan yang mewakili 25 mushola di Kelurahan Simbang Kulon.

Konsep awal acara sangatlah positif. Warga berkolaborasi membuat ogoh-ogoh, menampilkan parade busana adat, kesenian tradisional, drumband, hingga atraksi sound horeg yang sedang digemari. Panitia awalnya berharap event ini menjadi ruang ekspresi kreativitas warga sekaligus merawat kerukunan. Namun, niat baik tersebut ternoda oleh satu kelompok peserta yang membawakan pertunjukan teatrikal di luar nalar dan kepatutan.

2. Tragedi Kematian Ahmad Faiz dan Bantahan Isu Kutukan Kostum

Di tengah hiruk-pikuk viralnya video pertunjukan kontroversial, publik dikejutkan oleh kabar duka. Seorang peserta karnaval bernama Ahmad Faiz ditemukan meninggal dunia pada Jumat (11/9/2026) pagi, atau tepat sehari setelah ia unjuk gigi dalam karnaval tersebut.

Kematian Faiz seketika memicu spekulasi liar di kalangan warganet. Pasalnya, mendiang tampil mengenakan kostum monster yang menyeramkan. Tak butuh waktu lama, muncullah narasi tak berdasar yang mengaitkan kematian Faiz dengan "kutukan" atau efek mistis dari kostum dan pertunjukan bernuansa gelap yang ia bawakan.

Namun, pihak keluarga dengan tegas membantah isu mistis tersebut. Dalam klarifikasinya, keluarga mengungkapkan bahwa Faiz, yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin batik di Simbang Kulon, meninggal dunia akibat kelelahan fisik yang ekstrem (fatigue).

"Sebelum tampil Kamis malam, almarhum sudah ikut mempersiapkan karnaval selama dua hari berturut-turut. Sambil tetap bekerja sebagai pengrajin batik, ia hanya tidur 1 hingga 2 jam sehari," ungkap pihak keluarga. Kelelahan fisik yang tak tertahani inilah yang diduga menjadi penyebab utama tutupnya usia sang pengrajin batik berbakat tersebut. Jenazahnya kini telah dimakamkan dengan layak, meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat.

3. Klarifikasi Dugaan Pengeroyokan di Tengah Karnaval

Tak hanya soal kematian dan isu mistis, acara yang seharusnya berjalan khidmat ini juga diwarnai insiden fisik. Beredar informasi di masyarakat bahwa telah terjadi aksi pengeroyokan massal antara peserta dan penonton.

Menanggapi hal ini, panitia penyelenggara SKNC 2026 segera memberikan klarifikasi resmi. Mereka membenarkan adanya insiden perkelahian, namun membantah keras jika hal tersebut dikategorikan sebagai pengeroyokan massal.

Berdasarkan kronologi dari panitia, kericuhan dipicu oleh oknum penonton yang berasal dari luar desa. Oknum tersebut diketahui mencoba merampas properti milik peserta karnaval. Ketika dicegah, oknum tersebut justru melancarkan pemukulan terhadap peserta. Aksi ini sontak memancing amarah dan pembelaan diri dari kelompok peserta yang menjadi korban.

"Memang ada korban luka akibat insiden tersebut, namun kondisinya tidak parah dan tidak ada unsur pengeroyokan terorganisir. Situasi telah segera kami kondisikan," tegas perwakilan panitia.

4. Puncak Polemik: Dugaan Kuat Simbol dan Aksi Satanisme

Fakta keempat yang menjadi bom waktu dan membuat karnaval ini meledak di media sosial adalah dugaan kuat adanya simbolisme dan aksi satanisme.

Dalam salah satu sesi pertunjukan teatrikal di panggung utama, sebuah kelompok peserta menampilkan konsep seni yang dinilai sangat tidak tepat dan menyinggung sensitivitas agama masyarakat. Alih-alih menampilkan budaya lokal atau kritik sosial yang umum dalam karnaval, kelompok ini justru memperagakan gestur, atribut, dan simbol-simbol yang oleh para pengamat budaya dan tokoh masyarakat diidentifikasi sebagai ciri khas satanisme.

Tayangan video aksi teatrikal tersebut dengan cepat direkam oleh penonton dan diunggah ke internet. Dalam sekejap, video tersebut memicu kemarahan warganet, khususnya dari kelompok masyarakat yang concern terhadap penjagaan akidah dan nilai-nilai religius di ruang publik.

Banyak netizen yang menyayangkan mengapa panitia tidak melakukan kurasi dan sensor yang ketat terhadap materi pertunjukan, mengingat event ini berinduk pada peringatan Maulid Nabi dan hajatan keagamaan masyarakat.

Evaluasi Besar untuk Event Budaya Lokal

Kasus Simbang Kulon Night Carnival 2026 ini menjadi catatan merah sekaligus "alarm" bagi para penyelenggara event budaya di daerah. Kebebasan berekspresi dan kreativitas dalam berkesenian memang harus dihargai, namun tetap tidak boleh bertabrakan dengan nilai-nilai religius, norma kesopanan, dan kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat.

Di sisi lain, tragedi meninggalnya Ahmad Faiz juga menjadi pengingat keras bagi kita semua akan pentingnya manajemen waktu dan kesehatan fisik, terutama bagi para pekerja seni dan pengrajin yang kerap mengorbankan waktu istirahatnya demi sebuah karya.

Hingga berita ini diturunkan pada Senin (14/9/2026), gema kontroversi SKNC 2026 masih terus bergema di ruang digital. Publik kini menanti respons dan evaluasi nyata dari pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan serta tokoh masyarakat setempat agar peristiwa serupa—baik berupa pelanggaran norma maupun tragedi kemanusiaan—tidak lagi terulang di kemudian hari.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru