Berdasarkan kronologi dari panitia, kericuhan dipicu oleh oknum penonton yang berasal dari luar desa. Oknum tersebut diketahui mencoba merampas properti milik peserta karnaval. Ketika dicegah, oknum tersebut justru melancarkan pemukulan terhadap peserta. Aksi ini sontak memancing amarah dan pembelaan diri dari kelompok peserta yang menjadi korban.
"Memang ada korban luka akibat insiden tersebut, namun kondisinya tidak parah dan tidak ada unsur pengeroyokan terorganisir. Situasi telah segera kami kondisikan," tegas perwakilan panitia.
4. Puncak Polemik: Dugaan Kuat Simbol dan Aksi Satanisme
Fakta keempat yang menjadi bom waktu dan membuat karnaval ini meledak di media sosial adalah dugaan kuat adanya simbolisme dan aksi satanisme.
Dalam salah satu sesi pertunjukan teatrikal di panggung utama, sebuah kelompok peserta menampilkan konsep seni yang dinilai sangat tidak tepat dan menyinggung sensitivitas agama masyarakat. Alih-alih menampilkan budaya lokal atau kritik sosial yang umum dalam karnaval, kelompok ini justru memperagakan gestur, atribut, dan simbol-simbol yang oleh para pengamat budaya dan tokoh masyarakat diidentifikasi sebagai ciri khas satanisme.
Tayangan video aksi teatrikal tersebut dengan cepat direkam oleh penonton dan diunggah ke internet. Dalam sekejap, video tersebut memicu kemarahan warganet, khususnya dari kelompok masyarakat yang concern terhadap penjagaan akidah dan nilai-nilai religius di ruang publik.
Banyak netizen yang menyayangkan mengapa panitia tidak melakukan kurasi dan sensor yang ketat terhadap materi pertunjukan, mengingat event ini berinduk pada peringatan Maulid Nabi dan hajatan keagamaan masyarakat.
Evaluasi Besar untuk Event Budaya Lokal
Kasus Simbang Kulon Night Carnival 2026 ini menjadi catatan merah sekaligus "alarm" bagi para penyelenggara event budaya di daerah. Kebebasan berekspresi dan kreativitas dalam berkesenian memang harus dihargai, namun tetap tidak boleh bertabrakan dengan nilai-nilai religius, norma kesopanan, dan kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat.
Di sisi lain, tragedi meninggalnya Ahmad Faiz juga menjadi pengingat keras bagi kita semua akan pentingnya manajemen waktu dan kesehatan fisik, terutama bagi para pekerja seni dan pengrajin yang kerap mengorbankan waktu istirahatnya demi sebuah karya.
Hingga berita ini diturunkan pada Senin (14/9/2026), gema kontroversi SKNC 2026 masih terus bergema di ruang digital. Publik kini menanti respons dan evaluasi nyata dari pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan serta tokoh masyarakat setempat agar peristiwa serupa—baik berupa pelanggaran norma maupun tragedi kemanusiaan—tidak lagi terulang di kemudian hari.
