Hubungan antara platform streaming dan jaringan televisi broadcast tengah berubah. Keduanya yang dulu dianggap pesaing kini justru berbagi konten dan membangun kemitraan.
Konten orisinal streaming semakin sering tayang perdana di televisi broadcast. Sebaliknya, konten broadcast didistribusikan di platform streaming untuk menjangkau audiens baru bahkan setelah rilis.
Tren ini berlanjut dengan "Anna" di MBC hingga "Bonjour Bakery" di KBS. Keduanya menjadi contoh perubahan struktur distribusi konten.
Platform streaming tidak lagi membatasi kontennya pada ekosistem sendiri. Mereka mulai memperluas jangkauan ke jaringan broadcast tradisional.
Sebaliknya, stasiun broadcast memandang layanan streaming sebagai mitra yang mampu memperluas penawaran konten mereka.
Pergeseran Pasar dan Tekanan Biaya Produksi
Sebelumnya, platform streaming domestik dan asing tumbuh pesat. Audiens beralih dari televisi ke konsumsi konten sesuai permintaan melalui perangkat mobile, PC, dan tablet.
Jaringan broadcast mengalami pukulan ganda berupa penurunan rating dan pasar iklan yang lesu. Platform streaming justru melihat konten kuat dan kapasitas produksi broadcaster sebagai hambatan kompetitif.
Namun situasi berubah ketika pasar streaming mulai jenuh. Platform streaming sulit mempertahankan pertumbuhan lewat model distribusi eksklusif.
Meski investasi produksi besar, banyaknya judul membuat rilis saja tidak lagi menjamin jumlah penonton.
Jaringan broadcast dapat memperkenalkan konten kepada penonton yang belum mengenal platform streaming. Tayangan linear juga mampu memperbarui minat publik melalui visibilitas penjadwalan.
Jika konten orisinal streaming kembali menarik perhatian lewat tayangan broadcast, siklus komersial konten tersebut diperpanjang secara signifikan.
"Anna" menjadi contoh kemitraan lintas platform.
Dirilis sebagai orisinal Coupang Play, serial itu menjangkau audiens lebih luas lewat broadcast setelah mendapat pengakuan kritis di platform streaming.