Pengguna motor listrik di Indonesia menghadapi tantangan berupa harga jual kembali yang rendah, bahkan di bawah Rp 10 juta, meski harga awalnya mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Kondisi ini dialami sejumlah pemilik yang ingin menjual kendaraannya, baik untuk upgrade maupun alasan lain.
Kiagus Abdul Rofi, pengguna Uwinfly T5 sejak 2022, sempat ingin menjual motornya untuk upgrade karena banyak model baru dengan fitur lebih baik.
Namun, saat menanyakan ke diler, ia terkejut karena harga tukar yang ditawarkan sangat rendah.
Kiagus membeli motor seharga Rp 16 juta pada 2022, tetapi hanya ditawar Rp 3 juta karena baterai pernah diganti dan kondisi sudah dipakai empat tahun.
Ia mengaku agak kesal, tetapi memahami bahwa banyak orang belum tahu nilai motor listrik sehingga harga wajar turun.
Berbeda dengan Kiagus, Hadyan Ahmad Farizi, pengguna Polytron Fox R 2024, mengaku belum berniat menjual motor listriknya dan tidak akan kembali ke motor bensin.
Hadyan memilih menjual motor secara mandiri melalui platform online dan menganggap motor listrik seperti barang elektronik yang akan dipakai sampai rusak.
Ia memperkirakan motor yang dipakai dua tahun akan dijual antara Rp 8 juta hingga Rp 11 juta, sementara harga pasar Polytron Fox R mulai Rp 10 jutaan.
Sementara itu, Randy Waluya, pengguna Yadea E8s Pro 2023, memilih tidak menjual motor listriknya dan lebih fokus meng-upgrade baterai untuk mempertahankan performa.
Randy menceritakan karakter baterai SLA yang mulai loyo di bawah 50 persen, sehingga ia harus mengecas setiap ke kantor.