Badan Geologi resmi menurunkan tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Keputusan ini diambil setelah analisis menyeluruh menunjukkan penurunan aktivitas kegempaan dan data deformasi yang mengindikasikan deflasi pada tubuh gunung api.
Aktivitas vulkanik tercatat cenderung menurun hingga 20 September 2026, setelah sebelumnya sempat mengalami erupsi besar pada 3 September 2026.
Meski status diturunkan, masyarakat tetap dilarang mendekati area kawah dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas.
Fase Rekonstruksi Pascakolaps 2018
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PVMBG dan sejumlah lembaga internasional mencatat Anak Krakatau kini berada dalam fase rekonstruksi atau pertumbuhan kembali pascakolaps 2018.
Keruntuhan sektor barat daya kala itu menghilangkan sebagian tubuh gunung dan menurunkan ketinggian puncak dari 330 meter menjadi 120 meter.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani memaparkan perubahan struktural setelah gunung kehilangan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali," kata Dini Nurfiani.
"Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," ujarnya.
Perubahan fisik akibat keruntuhan tersebut secara langsung mengubah mekanisme erupsi dan interaksi magma di dalam kawah.
"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar," ujar Dini Nurfiani.
"Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," tambahnya.