Gunung Anak Krakatau masih berada dalam fase pembangunan kembali tubuhnya hingga 2026 pasca keruntuhan besar pada Desember 2018.
Temuan itu berasal dari riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama kolaborator internasional serta PVMBG.
Keruntuhan sektor barat daya pada 22 Desember 2018 melontarkan sekitar 0,116 kilometer kubik material ke laut.
Dampaknya, ketinggian puncak gunung menyusut drastis dari 330 meter menjadi 120 meter di atas permukaan laut.
Fase Pemulihan dan Perubahan Karakter Erupsi
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan bahwa sistem gunung api mengalami siklus dinamis.
Menurutnya, sejarah erupsi Anak Krakatau berkembang melalui pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.
Setelah kolaps 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru.
Fase pemulihan yang dimulai sejak 2019 memperlihatkan pergeseran karakter erupsi.
Aktivitas berkembang dari interaksi magma-air laut menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, hingga aliran lava.
Penumpukan material anyar secara bertahap membentuk kerucut baru di dalam kawah pascakolaps, termasuk pembentukan lava baru pada 2020.
Dini menyatakan bahwa setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali.
Aktivitas bergerak dari erupsi yang dipengaruhi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava yang membangun kerucut baru.
Secara historis, kemunculan Anak Krakatau di atas permukaan laut secara permanen terjadi pada Agustus 1930 pascaerupsi purba 1883.
Perubahan morfologi periode 2013 hingga 2021 menegaskan kembali pola pembangunan ulang struktur gunung api tersebut.
Dini menuturkan bahwa catatan erupsi memperlihatkan perilaku gunung api tidak selalu tetap.
Perilaku itu dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya.
