Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi akibat gejolak konflik global mulai mengubah perilaku konsumen di pasar kendaraan bekas.
Selisih harga antarjenis bahan bakar membuat kepemilikan barcode BBM subsidi bergeser menjadi syarat utama sebelum transaksi jual beli dilakukan.
Saat ini harga BBM non-subsidi jenis diesel seperti Dexlite menyentuh Rp 23.700 per liter dan Pertamina Dex Rp 25.200 per liter.
Untuk bensin non-subsidi, Pertamax dijual Rp 15.950 per liter, Pertamax Green 95 Rp 19.150 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 19.600 per liter.
Sementara itu, BBM subsidi masih jauh lebih murah, dengan Bio Solar Rp 6.800 per liter dan Pertalite Rp 10.000 per liter.
Kondisi ini menciptakan selisih harga hingga mendekati Rp 20.000 per liter untuk diesel dan sekitar Rp 10.000 per liter pada bensin.
Barcode Jadi Penentu Keputusan Pembeli
Pemilik Diler Gabe Mobilindo di Pasar Mobil Kemayoran, Toni, membenarkan bahwa pendaftaran barcode subsidi kini disiapkan diler untuk merespons permintaan calon pembeli.
"Sekarang kita juga bikin barcode. Pengaruh, pasti orang mau beli tanya, ada barcode-nya enggak.
Ya semenjak BBM naik, orang cari mobil bekas yang ada barcode-nya," ujar Toni.
Toni menegaskan fasilitas barcode sangat dicari konsumen yang ingin membeli unit berkapasitas mesin besar karena konsumsi bahan bakarnya boros.
Dampak serupa diakui Pemilik Diler Auto 95, Hendrik, yang menyebut faktor barcode kini menjadi pengunci keputusan akhir konsumen.
"Selalu tanya barcode BBM subsidi, kalau enggak ada barcode dia enggak mau, mau yang Pertalite atau Biosolar.
Mobil seperti Gran Max, Kuda, Avanza, sampai Innova bensin pasti ditanyakan barcode-nya," kata Hendrik.
Perbandingan biaya pengisian bahan bakar memperlihatkan perbedaan mencolok.
Pada Toyota Fortuner diesel bertangki 80 liter, pengisian penuh dengan Bio Solar hanya Rp 544.000, sedangkan Pertamina Dex menembus Rp 2 jutaan.
Untuk Toyota Avanza bertangki 43 liter, pengisian Pertalite memerlukan Rp 430.000, sementara Pertamax sekitar Rp 685.000, dengan selisih Rp 250.000-an per isi penuh.
Lonjakan harga BBM non-subsidi membuat ketersediaan barcode BBM subsidi menjadi penentu utama konsumen dalam membeli mobil bekas.
