Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengadopsi konsep pendidikan makanan dan nutrisi Shokuiku serta program makan siang Kyoshoku asal Jepang.
Langkah ini bertujuan menyempurnakan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia.
Penerapan konsep baru ini disiapkan setelah perwakilan lembaga menyelesaikan pelatihan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk memperkuat pengelolaan gizi sekolah.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menegaskan langkah ini sebagai bentuk pembaharuan strategi pelayanan gizi nasional.
"Akan ada terobosan baru dalam penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional," kata Tysa.
Integrasi Shokuiku dan Kyoshoku
Integrasi kedua program diharapkan memberikan pemahaman mendalam mengenai pola konsumsi sehat bagi siswa penerima manfaat di sekolah.
"Shokuiku namanya, pendidikan makanan dan nutrisi. Shokuiku diterapkan dalam makan siang di sekolah bersama dengan Kyushoku.
Dalam program makan siang ini, penerima manfaat tidak hanya diberi makanan dan kenyang, melainkan akan belajar mengenai kandungan nilai gizi, proses penyiapan makanan, dan menghargai makanan," sebutnya.
Penguasaan materi Shokuiku berfokus pada pembentukan karakter dasar, edukasi memilih asupan sehat, apresiasi peran rantai pasok makanan, serta penguatan keterlibatan lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sementara itu, Kyushoku menjalankan sistem makan siang bersama yang melatih kedisiplinan, kerja sama tim, etiket makan, serta prinsip kesetaraan melalui pembagian tugas antar siswa.
Menu seimbang berupa nasi, sup miso, salad, dan lauk pauk disiapkan khusus oleh ahli gizi berlisensi dengan menerapkan budaya menghargai makanan tanpa sisa.
Kepastian mengenai waktu resmi peluncuran program edukasi gizi ala Jepang ini masih menunggu pengumuman lanjutan dari pemerintah.
"Kapan BGN akan menerapkan ini? Tunggu tanggal mainnya!"
kata Tysa.
