unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Pentagon Bentuk Autowarcom, Komando Baru untuk AI dan Drone
News

Pentagon Bentuk Autowarcom, Komando Baru untuk AI dan Drone

Gedung Pentagon Amerika Serikat yang membentuk komando baru untuk AI dan drone
Pentagon Bentuk Autowarcom, Komando Baru untuk AI dan Drone
A A Ukuran Teks16px

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengumumkan pembentukan komando militer baru yang khusus menangani pengembangan dan penyediaan kemampuan otonom serta robotik di seluruh angkatan bersenjata AS.

Komando itu diberi nama Autonomous Warfare Command, atau yang disebut Hegseth sebagai Autowarcom.

Pengumuman disampaikan dalam pidato bertajuk State of the Force di hadapan ratusan perwira junior dan personel di Quantico, Virginia.

Langkah ini menyoroti perubahan cepat dalam sifat peperangan serta kebutuhan untuk membuat kemajuan pada sistem seperti drone dan pemanfaatan kecerdasan buatan.

Pergeseran ke Sistem Otonom yang Lebih Murah

Pembentukan komando baru bukan hal yang umum.

Komando terakhir yang dibentuk adalah US Space Command pada 2019.

Langkah tersebut mencerminkan dorongan Pentagon untuk beralih dari platform senjata konvensional yang mahal ke sistem otonom yang lebih murah dan digerakkan AI.

Sistem semacam itu dinilai telah terbukti menentukan dalam konflik-konflik terbaru.

Hegseth menyatakan komando tersebut akan dipimpin oleh seorang perwira bintang empat.

Menurutnya, laju perang berubah lebih cepat daripada proses untuk mendukungnya.

Ia menyebut komputasi murah, superintelligence, dan manufaktur komersial canggih telah mendorong proliferasi serangan presisi tinggi berbiaya rendah.

Saat ini militer AS memiliki 11 combatant command yang bertanggung jawab atas berbagai wilayah dunia dan tugas spesifik.

Dalam pidatonya, Hegseth juga mengumumkan perubahan lain, termasuk pembentukan kantor urusan keagamaan.

Peringatan Pakar dan Pelajaran dari Ukraina

Pakar menyampaikan kekhawatiran atas potensi pengembangan AI yang tidak terkendali dan persaingan teknologi yang dapat meningkatkan risiko di lingkungan keamanan global.

China dan Amerika Serikat, dua pendorong utama pengembangan AI mutakhir dan adopsi globalnya, disebut berselisih soal kebijakan dan praktik industri AI.

Pakar keamanan dari kedua negara menyerukan adanya guardrails dan pembangunan konsensus terkait AI dalam sistem militer, termasuk senjata nuklir.

Amerika Serikat lama mengandalkan anggaran militer besarnya untuk menempatkan sejumlah sistem senjata termahal di dunia.

Namun, ada kesadaran yang meningkat di Pentagon bahwa hal itu tidak berkelanjutan.

Hegseth menegaskan, saat ini dibutuhkan kualitas sekaligus kuantitas.

Perang Rusia di Ukraina menjadi ilustrasi tajam perubahan teknologi perang dalam beberapa tahun terakhir.

Konflik yang semula didominasi tank dan artileri berangsur menjadi perang drone.

Kalah dalam hal armor dan pesawat konvensional, Ukraina beralih ke sistem tak berawak murah untuk pengintaian dan serangan.

Drone diperkirakan menyumbang sekitar 70 persen korban di pihak Rusia, memungkinkan serangan dilakukan dari jarak jauh dan mengurangi risiko bagi pilot serta awak pesawat.

Pentagon dalam beberapa tahun terakhir telah membuat sejumlah kemajuan, termasuk pembentukan gugus tugas Joint Interagency Task Force 401 yang fokus menangkal drone.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru