unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Nilai A Melonjak karena AI, Kompetensi Lulusan Terancam
News

Nilai A Melonjak karena AI, Kompetensi Lulusan Terancam

Ilustrasi mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas akademik
Nilai A Melonjak karena AI, Kompetensi Lulusan Terancam
A A Ukuran Teks16px

Artificial Intelligence (AI) mengubah lanskap pendidikan tinggi secara signifikan.

Nilai A yang dulu sulit diraih kini semakin mudah diperoleh, tetapi kemudahan ini membawa konsekuensi serius bagi masa depan mahasiswa.

Sebuah laporan dari University of California, Berkeley (UC Berkeley) mengungkap lonjakan pemberian nilai A di sejumlah universitas.

Peneliti senior Igor Chirikov menganalisis lebih dari 500.000 data pendaftaran mata kuliah di 84 departemen pada sebuah universitas besar di Texas dari tahun 2018 hingga 2025.

Hasil analisis menunjukkan lonjakan nilai paling tajam terjadi pada mata kuliah dengan porsi tugas menulis dan coding yang tinggi.

Mata kuliah yang rentan terpapar AI mengalami kenaikan pemberian nilai A sebesar 30 persen sejak ChatGPT meledak di pasaran.

Tiga Pola Penggunaan AI dan Dampaknya

Chirikov membedah tiga cara utama mahasiswa menggunakan AI generatif dalam mengerjakan tugas. Pertama, augmentasi, yaitu AI sebagai asisten pendukung riset sementara pekerjaan tetap diselesaikan mahasiswa.

Kedua, reinstatement, penggunaan AI untuk tugas baru yang memang berbasis teknologi. Ketiga, displacement, AI sepenuhnya mengambil alih pekerjaan seperti menulis esai atau coding.

Ketiga cara tersebut terbukti meningkatkan nilai. Namun, hanya augmentasi dan reinstatement yang berkorelasi positif dengan pembelajaran dan pembangunan skill yang sesungguhnya.

Banyak tugas akademik seperti tugas bawa pulang dan penulisan esai tanpa pengawasan menjadi celah bagi mahasiswa melakukan displacement.

Akibatnya, esensi pembelajaran dan kemampuan yang diserap justru merosot.

Ancaman bagi Dunia Kerja dan Respons Kampus

Tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang penting untuk mendaftar program pascasarjana maupun bersaing di pasar kerja.

Kondisi ini membuat banyak mahasiswa mencari jalan pintas di tengah ketatnya persaingan industri.

Namun, inflasi nilai yang didorong AI dikhawatirkan membuat perekrut tenaga kerja semakin sulit menyaring kandidat lulusan muda yang benar-benar kompeten.

Ketergantungan akademik pada AI juga diyakini menciptakan tenaga kerja masa depan yang tidak kompeten dan lumpuh tanpa bantuan mesin.

Chirikov menulis bahwa jika AI menggantikan tugas-tugas pembentukan skill selama kuliah, mahasiswa mungkin lulus dengan kemampuan yang lemah justru di bidang-bidang di mana AI paling kuat.

Masalah ini dapat mempercepat otomatisasi pekerjaan secara menyeluruh.

Sejumlah universitas terkemuka mulai mengambil tindakan untuk memerangi inflasi nilai.

Di Universitas Princeton, setelah sekitar 30 persen mahasiswa tingkat akhir mengaku berbuat curang menggunakan AI generatif, fakultas sepakat mencabut aturan kode kehormatan yang telah berusia 133 tahun.

Sementara itu, di Universitas Harvard, para anggota fakultas dikabarkan tengah melakukan pemungutan suara untuk proposal kebijakan yang membatasi kuota pemberian nilai A menjadi maksimal 20 persen dari total mahasiswa di setiap kelas.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru